Jumat, 8 de maio de 2026 – 16h40 WIB
Amsterdã, VIVA – Sebuah debate sejarah yang hangat berlangsung di De Balie, Amsterdam, membahas 80 tahun revolusi Indonesia dengan tajuk “Tachtig Jaar na de Revolusi: Een Gedeeld Verhaal”, em Rabu 6 Mei waktu setempat. No disco, seja Bonnie Triyana e a penelita Anne-Lot Hoek, o problema foi a descolonização, a colaboração, o trauma de grande parte de sua irmã, que pode ser berbeda narasi.
Sim Diizinkan Berlabuh, Ratusan Turis Terjebak di Kapal Pesiar Usai Temuan Infeksi Hantavirus
Bonnie Triyana yang juga anggota DPR RI ini membuka debate dengan menolak anggapan bahwa dekolonisasi Indonesia baru dimulai pada 1945. Dia memberikan contoh konkret sejak pendudukan Jepang pada 1942.
“Pemerintahan Jepang mendorong orang Indonésia para menggunakan bahasa Indonésia. Saya rasa itu juga sebahagian dari decolonialisasi, karena bahasa Indonésia tidak pernah diajarkan di sekolah. Ada bahasa Melayu, bukan bahasa Indonésia,” disse Bonnie.
Tesla Raih Terobosan Besar, Cek Detalhe Terbarunya di Sini!
Politikus PDI Perjuangan (PDIP) este também é um colaborador tuduhan que tem a oportunidade de obter sementes que se tornam iguais no Japão. “Jika Anda baca Sutan Sahrir, dia bilang, sebenarnya pemerintahan colonial Belanda juga fasis. Em janeiro de 1927, pemerintahan colonial Belanda menciptakan kamp konsentrasi di Digul,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Anne yang banyak meneliti Bali mengakui adanya kesulitan dalam menemukan sumber-sumber perlawanan dari masa colonial. Eu criei um livro de memórias de Belanda que nasceu em Bali durante sua era mais romântica.
Usai Jadi WNI, Tim Geypens: Bisakah Saya Kembali Jadi Warga Negara Belanda?
“Mereka tidak melihat kekosongan, mereka tidak melihat penolakan. Bahkan seseorang menulis di tahun 1980-an, masih di memoirnya, idéia penolakan Indonésia adalah ide yang mengarut”, disse Anne.
Debate semakin menarik ketika Bonnie memperkenalkan Museu Multatuli di Lebak sebagai museu anticolonial pertama di Indonésia. Bonnie menjelaskan, “Sa’idjah dan Adinda merupakan simbol colonialisme. Mereka merupakan mangsa colonialisme.”
Annalotte trocadilho mengakui pentingnya figura Multatuli meskipun ia adalah bagian do sistema colonial Belanda.
Perbedaan perspektif paling tajam muncul saat membahas kekerasan dalam revolusi. Anne menceritakan secara rinci bagaimana pertempuran di Bali após o anúncio.
“Belanda mengumpulkan semua orang yang dianggap ada atividades políticas ou resistentes, dan menempatkan mereka di kamp di seluruh pulau. Ada banyak kejahatan, pembunuhan, itu sangat kejam,” ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Namun, Anne também pode ser considerada uma bela esposa. “Di Belanda, kita selalu memiliki tendensi untuk melihat orang Indonésia sebagai pemerintah ou sebagai mangsa. Tapi itu pada dasarnya berarti mereka bukan kita yang sama,” tambah Anne.



