Minggu, 19 de abril de 2026 – 11h34 WIB
Jacarta, VIVA – Fenômeno istilah família tóxica ou keluarga yang dianggap memberi dampak buruk kini semakin sering dibahas, terutama di media social. Banyak orang merasa lelah secara emocional karena konflik berkepanjangan, sehingga muncul pertanyaan penting: apakah menjauhi keluarga ou lingkungan yang dianggap toxic termasuk dosa?
Qurban ou Aqiqah Dulu, Mana yang Harus Diprioritaskan? Ini Penjelasan Buya Yahya
Pertanyaan tersebut pernah dibahas oleh ulama ternama, Buya Yahya. Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa menjauhi lingkungan yang berdampak buruk tidak selalu salah, namun langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengevaluasi diri sendiri.
Menurutnya, seseorang tidak boleh langsung menilai orang lain sebagai penyebab masalah tanpa melihat kemungkinan kesalahan dalam diri sendiri. Ia menggambarkan hal tersebut com sebuah perrumpamaan sederhana.
Ada Sepeda Listrik Lagi Isi Daya saat Kebakaran Rumah yang Tewaskan Sekeluarga Lima Orang di Tanjung Duren
“Orang menghindar dari hal yang menjadikan dirinya tidak baik itu sah. Akan tapi koreksi dulu jauh lebih penting. Apakah betul orang yang di kiri kanannya itu adalah tidak baik?” jelas Buya Yahya yang dikutip do canal YouTube-nya pada Minggu, 19 de abril de 2026.
Dalam penjelasannya, Buya Yahya membroikan contoh unik tentang seseorang yang mengira banyak bagian tubuhnya sakit, padahal masalah sebenarnya terletak pada jarinya. Hal ini menjadi gambaran bahwa terkadang seseorang merasa todo o orang di sekitarnya salah, padahal sumber masalah bisa jadi berasal dari dirinya sendiri.
Saksi Dengar Ledakan saat Kebakaran Rumah yang Tewaskan Sekeluarga Lima Orang di Tanjung Duren
Ia mengingatkan bahwa sebelum memutuskan menjauh dari keluarga ou lingkungan, seseorang perlu bertanya pada diri sendiri apakah sikap ou perilakunya justru membuat orang lain tidak nyaman.
“Makanya paling baik koreksi diri. Apakah ketidaksenangan mereka karena aku? Kalau karena aku di mana trocadilho aku berada nanti sama orang di kiri kananku pasti tidak senang,” jelasnya lagi.
Meski begitu, Buya Yahya também menjelaskan bahwa a partir de situações de mana lingkungan benar-benar membawa damak buruk. Misalnya, jika seseorang sering direndahkan, dicaci, ou berada di lingkungan yang mendorong perilaku negatif.
Dalam kondisi seperti itu, menjauh bukanlah hal yang dilarang, melainkan langkah para menjaga diri dari pengaruh buruk.
“Jika memang benar Anda itu sudah baik, Anda tidak mengganggu mereka, tidak menyakiti mereka, tapi ternyata Anda berada di tempat yang salah, lingkungan yang tidak baik, maka boleh Anda meninggalkan tersebut untuk keselamatan diri”, disse Buya.
Halaman Selanjutnya
Hal penting lain yang ditekankan adalah cara meninggalkan lingkungan tersebut. Menurut Buya Yahya, menjauh sebaiknya dilakukan com cara baik e não menimbulkan konflik baru.



