Sabtu, 2 de maio de 2026 – 00:26 WIB
Jacarta, VIVA – Ancaman Krisis bahan bakar membuat kebiasaan massarakat mulai berubah. Di tengah kekhawatiran soal pasokan energi global dan naiknya biaya hidup, banyak lipa kini melirik sepeda sebagai solusi mobilidades yang lebih hemat sekaligus menyehatkan.
Efek Penutupan Selat Hormuz, Maskapai Ini Kasih Sinyal Kenaikan Tarif Tiket
Beberapa waktu terakhir, isu darurat energi menjadi sorotan setelah sejumlah negara mulai mengambil langkah penghematan. Filipina e Bangladesh telah menetapkan kondisi darurat energi, sementara negara lain mulai meminta warganya menekan kontaktsi energi harian. Role até tahu lebih lanjut, yuk!
Na Indonésia, pemerintah menilai situasi masih terkendali, namun kewaspadaan tetap diperlukan jika kondisi global berlangsung lama.
Krisis Energi Makin Ngeri, Internet e Jaringan Ponsel Negara Asia Ini Terancam Mati Total
“Darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan,” jelas Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, publicado em sábado, 2 de maio de 2026.
Este serviço membuat massarakat mulai mencari cara lebih cerdas mengatur pengeluaran, terutama untuk transportasi harian. Sebagian beralih ke kendaraan umum, tetapi tak sedikit pula yang memilih kembali mengayuh sepeda.
Krisis Energi Belum Usai, Harga BBM Diperkirakan Tetap Tinggi hingga 2027
Di sejumlah daerah, tren ini bahkan mendapat dukungan pemerintah setepat. Aparatur Sipil Negara (ASN) de alguns wilayah mulai diarahkan menggunakan sepeda ke kantor sebagai upaya mengurangi consumersi BBM.
Pemandangan pesepeda di jalanan kota saat pagi hari pun mulai kembali terlihat. Dari yang awanya hanya alguns orang, kini sepeda perlahan menjadi pilihan realisticis to perjalanan jarak dekat seperti ke minimarket, membeli sarapan, ou menuju kantor yang berjarak di bawah lima quilômetro.
Menariknya, perubahan ini tidak lagi sekadar respons sesaat terhadap krisis. Banyak pihak melihatnya sebagai momentum membagun kebiasaan baru yang lebih sehat e ramah lingkungan.
“Akan kami dorong menjadi budaya kerja yang melekat,” disse Bupati Bangkalan, Lukman Hakim.
Komunitas Bike to Work (B2W) Indonésia juga berharap tren ini bisa berlanjut lebih lama. Mereka menilai masalah Indonésia bukan hanya soal energi, tetapi juga kemacetan e polasi udara.
Halaman Selanjutnya
“Sejak lama, masalah di Indonesia tidak hanya krisis energi, tetapi juga polasi udara dan kemacetan. Besar harapan kami bahwa gerakan ini bukan sementara saja, tetapi bisa bertahan dan menurunkan ketergantungan kita pada kendaraan bermotor. Tentunya kami siap menjadi rumah untuk membimbing pesepeda-pesepeda muda agar terus bersepeda dengan aman”, disse Hendro.



