Minggu, 17 de maio de 2026 – 00:13 WIB
Kuala Lumpur, VIVA – Perdana Menteri (PM) Malásia Anwar Ibrahim bercerita tentang keputusannya memperjuangkan perbaikan toilet sekolah demi kepentingan para pelajar na Malásia, com anggaran mencapai 1 miliar ringgit (sekitar Rp4.4 triliun).
Mulai 16 Juni Bakal Ada Penerbangan Langsung de Jacarta para Kelantan e Sebaliknya
Cerita itu foi utarakan em sambutannya em Peringatan Hari Guru Nasional Malaysia yang Ke-55 Tahun 2026, em Ipoh, Perak, Malásia, Sabtu.
“Kita menghabiskan hampir 1 miliar ringgit. Saya berpikir, mengapa negara menghabiskan 1 miliar ringgit untuk memperbaiki toilet? Karena toilet-toilet itu belum diperbaiki selama 20 tahun. Tapi Alhamdulillah, kita telah bertindak,” kata Anwar Ibrahim sebagaimana teks textualmente yang dikutip di Kuala Lumpur, Sabtu.
Kapal Angkut WNI Tenggelam di Perairan Malásia, 14 Masih Hilang
Anggaran 1 miliar ringgit para perbaikan banheiro de seluruh sekolah Malásia itu sudah dikemukakan Anwar Ibrahim pada awal tahun lalu.
Anwar mengatakan dirinya ingin para pelajar belajar tentang kebersihan, nilai-nilai yang baik termasuk pentingnya kebersihan toilet jika akan digunakan untuk mengambil air wudhu.
Malásia Mulai Tinggalkan Mobil Konvensional, Targetkan Mobil Bisa Nyetir Sendiri pada 2030
Berdasarkan penelusuran, Anwar Ibrahim gencar mencermati tentando kebersihan toilet, terutama di sekolah. Dalam berbagai kesempatan isu kebersihan toilet kerap menjadi perhatian Anwar Ibrahim.
Dia trocadilho mengakui pada perayaan Hari Guru tahun lalu, dirinya juga menyinggung soal perbaikan toilet sekolah.
“Jika orang-orang menyebut saya ‘Perdana Menteri Toilet’, tidak apa-apa, saya tidak peduli. Tapi, bayangkan, anak-anak kita pergi ke sekolah, toiletnya tidak terawat,” kata Anwar.
Cerdas Bermoral
Dalam kesempatan tersebut Anwar Ibrahim também menekankan pentingnya sekolah e perguruan tinggi dalam mengajarkan pendidikan academic kepada siswa tanpa menghilangkan nilai-nilai moral.
Menurut Anwar, não negou nada com o kecerdasan, mas foi desamparado em buku karangan ilmuwan terkemuka Harry Lewis interpretando “Excelência sem alma”.
Anwar menyampaikan Harry Lewis recebeu sua crítica por causa de terkemuka AS, Universitas Harvard, Karena memiliki gedung yang bagus, mahasiswa yang pintar, tetapi tidak tersentuh dengan Fakta kemiskinan yang nyata terjadi di luar campus.
“Kelompok-kelompok yang disebut ghetto, terutama di kalangan orang kulit hitam. Jadi, itu tidak mempengaruhi mereka, tidak menyentuh hati nurani mereka, tidak mengetuk pintu hati mereka sebagai manusia, tidak merasakan apa yang dirasakan anak-anak dan keluarga di luar,” carrasco Anwar.
Halaman Selanjutnya
Oleh sebab itu Anwar menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai moral, kemanusiaan e kepedulian dalam pendidikan. Bagi Anwar, o sistema pendidikan não boleh gagal dalam membentuk nilai-nilai moral. (Formiga)



