Selasa, 28 de abril de 2026 – 21h29 WIB
VIVA- Buat sebagian orang, lari mungkin cuma soal menembus garis finis. Não houve nada de Yad Hapizudin e Irma Handayani. Bagi keduanya, setiap langkah adalah proses panjang: membangun konsistensi, menguji mental, sekaligus menantang diri untuk terus melampaui batas.
Menu Performa Atlet e Kebutuhan Pencinta Olahraga com Inovasi Baru
Yad dan Irma merupakan dua pelari Indonésia yang mendapat dukungan dari PUMA. Keduanya consiste em menunjukkan performa di berbagai ajang, de nível namial hingga internacional.
Yad, pelari asal Lombok Timur, dikenal sebagai spesialis nomor 1.500 metros. Ele subiu ao pódio no Campeonato Aberto de Atletismo de Cingapura de 2026. Depois disso, ele ganhou a classificação sub-20 e começou a impressão às 15:08 para 5 km na Adhyaksa International Run 2026.
Kemala Run 2026 Banjir Pujian, Rute Menantang e Panorama Memikat
Di sisi lain, Irma Handayani—pelari maratona asal Kalimantan Timur—juga terus menjaga performanya. Ia tapil di berbagai lomba bergengsi, termasuk Daegu Marathon 2026 di Korea Selatan com catatan waktu 2 jam 56 menit 1 detik.
Bagi mereka, garis finis bukanlah akhir. Justru dari situlah target baru dimulai. Setiap lomba menjadi ruang evaluasi sekaligus batu loncatan untuk berkembang lebih jauh—baik dari sisi waktu, teknik, maupun mental.
Kampanyekan Hidup Sehat, Komunitas Lari e Tenaga Kesehatan Bersatu di Ajang 10K
Di Balik Perjalanan yang Tak Selalu Mudah
Perjalanan Yad dimulai dari hal sederhana: kegiatan contakturikuler di sekolah. Ia sempat menjalani latihan silat dan lari sekaligus, hingga akhirnya menemukan titik balik setelah meraih kemenangan di kometisi pelajar.
“Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi setelah menang, aku jadi ngerasa ini bukan sekadar atividades. Dari situ aku mulai serius dan termotivasi untuk terus lari,” ujarnya.
Seiring waktu, Yad memahami bahwa menjadi atlet bukan hanya soal fisik, tapi juga soal pilihan. Rasa jenuh, tekanan latihan, hingga pengorbanan waktu bersama keluarga menjadi bagian dari proses. Kini, eu membidik alvo besar berikutnya: memecahkan rekor 1.500 metros na categoria sênior.
Sementara itu, Irma punya cerita yang tak kalah kuat. Ia memulai dari keterbatasan, bahkan pernah mengikuti lomba tanpa sepatu.
“Dulu aku pernah lari tanpa sepatu. Dari situ aku merasa tertantang untuk terus berkembang, supaya bisa punya performa yang lebih baik,” ungkapnya.
Halaman Selanjutnya
Bagi Irma, lari adalah gaya hidup yang menuntut komitmen penuh. Eu tenho relações bancárias com o tempo istirahat e o momento em que você pode ter demi menjaga performa. No local, eu apenas menegokan dorongan para terus berkembang e melampaui dirinya sendiri.



