Rabu, 8 de julho de 2026 – 20h15 WIB
Jacarta, VIVA – Faça um Mikrotrans JakLingko que será oferecido gratuitamente se você tiver tarifas reduzidas. Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan agar penumpang dikenakan tarif sebesar Rp2.000 para obter todo o dinheiro do sistema de transporte público de Ibu Kota.
Pramono Bakal Bahas Usulan Tarif TransJakarta Berlangganan Rp200.000 por Bulan
Usulan tersebut disampaikan Ketua DTKJ período 2026–2029, Sugihardjo. Menurutnya, penerapan tarif pada layanan Mikrotrans tidak hanya berkaitan dengan aspek pendapatan, tetapi juga bertujuan meningkatkan kualitas data penumpang yang selama ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.
“Kalau hanya untuk jarak dekat hanya naik Mikrotrans itu tarifnya Rp2.000. Kita mengusulkan Rp2.000,” ujar Sugihardjo.
Tiket TransJakarta Diusulkan Berlangganan Rp 200 Ribu per Bulan, Pengamat Sebut Solusi Tiket Hemat
Apabila usulan tersebut diterapkan, maka layanan Mikrotrans JakLingko yang sebelumnya free akan berubah menjadi layanan berbayar com tarif tunggal Rp2.000 para satu kali perjalanan.
DTKJ Nilai Tarif Baru Dapat Tingkatkan Akurasi Data
Ada Event Marathon, 5 Layanan Transjakarta Ini Mulai Beroperasi Jam 10.00 em Hari Minggu
Sugihardjo menjelaskan, selama layanan Mikrotrans masih diggratiskan, operador tetap memiliki alvo operacional yang harus dipenuhi, baik dari sisi jumlah penumpang maupun quilômetro perjalanan.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi memunculkan praktik penyalahgunaan kartu elektronik oleh oknum tertentu. Salah satunya comngan melakukan tap kartu berulang kali agar jumlah penumpang yang tercatat terlihat lebih tinggi.
Akibatnya, data penggunaan layanan dinilai tidak sepenuhnya menggambarkan jumlah penumpang yang sebenarnya.
“Selama ini kan dalam contrak antara TransJakarta e operador itu juga ada target untuk kilometer tempuh, ada target untuk jumlah penumpang. Nah kaitan dengan ini waktu gratis misalnya jumlah penumpangnya kurang, saya jadi operador, ‘Waduh nanti enggak mau target kena potong nih. Udah saya tap-tapping sendiri aja supaya alvo terpenuhi’,” kata Sugihardjo.
Menurutnya, apabila setiap perjalanan dikenakan tarif Rp2.000, praktik tersebut akan jauh lebih sulit dilakukan karena setiap transaksi memerlukan pembayaran.
“Nah nanti dengan Rp2.000 kira-kira saya mau tap-tapping enggak? Você pode masa duit saya habis dong. Nah jadi datanya lebih riil,” ujarnya.
Com demikian, os dados jumlah penumpang yang tercatat diharapkan menjadi lebih exatamente e dapat digunakan sebagai dasar evaluasi maupun pengembangan layanan transportasi public.
Halaman Selanjutnya
Masyarakat Diminta Tak Langsung Menilai Jumlah Penumpang Menurun