Sabtu, 2 de maio de 2026 – 10:00 WIB
Jacarta, VIVA – Gejolak harga minyak dunia kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan American Serikat and Iran, membuat pasar energi berada dalam tekanan, com potencial lonjakan harga yang masih terbuka lebar sepanjang 2026.
Analis Ungkap 2 Fator Pendorong Dolar AS Perkasa hingga Picu Rupia Jebol ke Nível 17.300
Meski sempat mereda setelah adanya gencatan senjata, ketidakpastian situações de lapangan membuat pelaku pasar tetap berhati-hati. Jalur distribui estratégias de energia seperti Selat Hormuz menjadi contactor krusial yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia saat ini.
A notícia da CNBC foi muito importante para o West Texas Intermediate (WTI) que foi lançado antes de ser lançado. Para o comerciante do mercado de previsão de plataforma Kalshi bahkan melihat peluang besar adanya lonjakan harga lebih tinggi dalam alguns bulan ke depan.
Inflasi Pangan Mengintai, Kenaikan Harga Minyak Goreng Jadi Sorotan
Mais tarde, o projeto terá mais de 50 pessoas por ano e custará US$ 127 por barril ou Rp 2.159.000 por barril. Este ano já foi considerado o preço mais baixo do mercado, US$ 113 por barril ou cerca de Rp 1.921.000 por barril em abril.
Selain itu, pelo menos US$ 120 por barril ou cerca de Rp 2.040.000 ou mais, com estimativas de 63 pessoas.
Negosiasi Irã-AS Gagal, Harga Minyak Langsung Meroket hingga Tembus Rp1,8 Juta por Barel
Neste momento, o preço é maior do que US$ 100 por barril ou cerca de Rp 1.700.000. Bahkan, minyak Brent sempat mencetak nível tertinggi baru pascakonflik. Namun, harga sempat mengalami koreksi setelah Irã mengajukan proposta perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat.
Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar. Hingga kini, belum ada kejelasan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz maupun kemungkinan berakhirnya blocke laut oleh Amerika Serikat.
Kondisi ini membuat sebagian penurunan harga minyak setelah gencatan senjata kembali berbalik naik. Menariknya, ekspektasi pasar terhadap skenario extreme mulai menurun.
Em abril, sebelum gencatan senjata diumumkan, peluang harga minyak menembus US$150 por barril ou setara Rp2,550,000 diperkirakan mais de 50 pessoas. Kini, peluang tersebut turun menjadi sekitar 26 persen.
Penurunan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar muai menyesuaikan ekspektasi terhadap perkembangan situasi geopolitik. Meski begitu, selama konflik belum sepenuhnya mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi.
Ngeri! Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus Rp3 Juta Lebih Imbas Perang Irã-AS
Harga minyak dunia melonjak di atas US$126 por barril akibat conflito Irã e bloqueio Selat Hormuz. Risiko resesi trocadilho global fazendo besar. Baca di sini selengkapnya
VIVA.co.id
30 de abril de 2026




