Jumat, 29 de maio de 2026 – 12h10 WIB
VIVA –Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memerintahkan militer negaranya untuk memperluas penguasaan wilayah hingga mencakup 70 persen wilayah jalur Gaza. Langkah tersebut dinilai bertentangan dengan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober lalu e sebelumnya bertujuan mengurangi operasi militer di wilayah tersebut.
Komandan IDF Sebut Israel Hadapi Ancaman yang Bisa Membahayakan Negaranya
“Sekarang kami terus menekan Hamas. Saat ini kami sudah menguasai 60 persen wilayah di Jalur Gaza,” ujar Netanyahu na sebuah konferensi di permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, berdasarkan video yang disiarkan Channel 12 Israel dikutip dari laman NDTV, Jumat 29 Mei 2026.
Ia menyebut, berdasarkan ketentuan gencatan senjata, milit Israel sebelumnya menguasai 50 persen wilayah Gaza. Namun kini, menurutnya, ia menginstruksikan pasukan untuk meningkatkan penguasaan hingga 70 persen wilayah.
Trump Diam-diam Sebar Draft Damai Irã ke Israel, Apa Isinya?
“Kami menekan mereka dari segala arah. Sisanya akan kami selesaikan nanti,” katanya.
Fase pertama gencatan senjata mencakup pembebasan sandera terakhir yang ditahan Hamas sejak serangan 7 de outubro de 2023 para Israel, yang menjadi pemicu perang di Gaza. Sebagai gatinya, Israel membebaskan lip Palestina yang ditahannya.
Pejabat Irã Bongkar Alasan Mojtaba Khamenei Tak Muncul di Depan Publik
No entanto, proses menuju fase kedua yang seharusnya mencakup pelucutan senjata Hamas e penarikan bertahap exército Israel hingga kini masih mandek selama berbulan-bulan.
Dalam kesepakatan gencatan senjata, pasukan Israel seharusnya uniform ke belakang garis yang disebut ‘garis kuning’, yakni batas pemisah antara wilayah yang dikuasai Hamas dan area yang dikendalikan militer Israel.
No dia 15 de maio, Netanyahu também mengumumkan bahwa militr Israel foi memperluas cengkeramannya di Jalur Gaza.
“Saat itu ada yang mengatakan keluar, keluar. Tapi kami tidak keluar. Hari ini kami menguasai berapa? 60 persen. Besok nanti kita lihat,” ucapnya kala itu.
Hingga kini, Gaza masih dilanda kekerasan setiap hari. Militer Israel e Hamas saling menuding telah melanggar gencatan senjata yang berlaku sejak 10 de outubro.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas, mais de 900 orang tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. Data kementerian tersebut dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Israel pada Rabu mengklaim telah membunuh pemimpin baru sayap bersenjata Hamas di Gaza, Mohammed Odeh, setelah sebelumnya menewaskan pendahulunya awal bulan ini.
Halaman Selanjutnya
Sejak serangan Hamas em outubro de 2023, Israel secara sistematis memburu para pemimpin kelompok tersebut, baik di Gaza maupun di wilayah lain di Kawasan Timur Tengah.