Selasa, 21 de julho de 2026 – 16h44 WIB
Jacarta, VIVA – PT Pertamina (Persero) foi selecionado para atingir o alvo Pemerintah para obter a importação de Bahan Bakar Minyak (BBM) para obter energia suficiente. Langkah strategis tersebut difokuskan melalui optimisasi pemanfaatan kelapa sawit beserta produk turunannya.
Importado Garam Naik de Awal Tahun 2026, Pemerintah Didorong Batasi Kuota Tambahan
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, no fórum Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7). Oki menyatakan bahwa bioenergi berbasis viu merupakan solusi nyata dan terukur para menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan energi domestik yang saat ini masih ditopang oleh importa minyak mentah e produto BBM.
“Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO (Óleo de palma bruto) e Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi,” ujar Oki no fórum yang dihadiri para pemangku kepentingan, akademisi, regulador, dan pelaku industri sawit.
Bahlil Sebut Harga BBM Não subsidiado Berpotensi Turun, Asal…
Lebih lanjut, Oki memaparkan tiga potens utama bioenergi dalam menjaga ketahanan energi seedal. Pertama, ketersediaan biomassa doméstica yang sangat melimpah. Kedua, perannya yang krusial dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat descarbonisasi di sector transportasi. Ketiga, bioenergi mampu meggerakkan roda ekonomi sirkular yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan massarakat.
A energia não pode ser enviada durante a transição de energia. Skema yang harus dibangun adalah memperkuat seluruh ecosystem biofuel, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan tecnologia di kilang, hingga distribusi ke massarakat.
Banyak yang Iri Harga BBM Malásia Bisa Murah, Ternyata Begini Faktanya
Langkah konkret tersebut telah diwujudkan melalui implementasi program biodiesel B50, yang saat ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penggunaan biodiesel terbesar di dunia. Jaringan distribusinya pun telah masif, menjangkau 86 dari 121 Terminal BBM milik Pertamina di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, para obter bens de importação, Pertamina também tem recursos suficientes para consumir bioetanol de Glenmore com capacidade de 30 quilolitros de ribo por litro. Langkah ini dilakukan guna mengejar target pencampuran E10 sesuai peta jalan (roadmap) Pemerintah.
Di samping CPO, Pertamina mulai melirik potens besar yang belum tergarap maximal, yaitu Tandan Kosong Sawit (TKS). Com um volume potencial menor que 25 toneladas por ano, TKS dinilai memiliki nilai também estratégias para diolah menjadi bioetanol.
Halaman Selanjutnya
“Tantangan kita sekarang ada di hilirisasi. Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lalu menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia”, disse Oki.