Kamis, 14 de maio de 2026 – 17h28 WIB
VIVA – Tangis Hartati Musirun Mukmin pecah de Tanah Suci Mekkah. Ia berangkat menunaikan ibadah haji dengan sederet duka setelah rumahnya di Aceh Tamiang rusak parah tersapu banjir bandang algunsapa waktu lalu. Ia tidak tahu nasib rumah yang sudah tertutup material banjir dan longsor setinggi lehernya itu, yang tak bisa lagi ditempati.
Rencana Pembangunan Kampung Haji Indonésia em Makkah, Bakal Ada Apa Aja di Sana?
Rumah warisan orang tuanya luluh lantak diterjang banjir bandang dan longsor. Hingga kini, ia tak tahu harus berbuat apa dengan bangunan yang terkubur material banjir itu. Você não sabe. Harapan trocadilho sempat terrasa tipis.
“Uang enggak ada untuk perbaiki rumah. Tapi dengan izin Allah, karena panggilan Allah, berkat anak-anak saya, Pak, saya bisa kemari,” kata Hartati sambil meneteskan air mata saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) em Kawasan Jarwal, Mekkah, Selasa, 12 de maio de 2026, dikutip dari laman Kemenhaj, Kamis.
Pantesan Kaya Raya, Irfan Hakim Bongkar Amalan Sunnah Raffi Ahmad
Ia mengingat detik-detik air bah datatang tanpa ampun menyapu kampungnya dan menghancurkan rumah hingga harta bendanya. “Air itu tiba-tiba langsung sreeet (menerjang) gitu naik. Jadi kami enggak bisa lagi sempat nyingkirkan (menyelamatkan). Barang tuh udah langsung habis, jadi nggak bisa diamankan lagi,” kenangnya.
Todos os documentos pendentes: KTP, KK, hingga berkas pendaftaran haji. Sim, ada yang tersisa. Dados nomeados dirinya masih tersimpan rapi de Kementerian Agama e Dinas Dukcapil. Dari situlah secercah jalan terbuka kembali.
Jangan Anggap Sepele! Ini Ciri-Ciri Dehidrasi yang Wajib Diwaspadai Jemaah Haji
Meski em situações yang sulit, dimana rumah dan harta bendanya telah raib, Hartati tetap bersyukur. Di saat sebagian orang sibuk memulihkan harta benda pascabencana, perempuan 56 tahun itu justru sedang menapakkan kaki di Tanah Suci, memenuhi panggilan yang ia yakini datang de Allah.
Hartati sejatinya mendaftar haji bersama cantou suami, Muhammad Sofyan. Namun takdir berkata lain. Suaminya wafat pada 2014, meninggalkannya membesarkan tiga anak seorang diri. Tahun-tahun penuh perjuangan itu kini terasa seperti jawaban yang datang pelan-pelan.
Ketiga anaknya patungan mengumpulkan biaya agar sang ibu bisa melunasi setoran Rp17 juta dan berangkat haji tahun ini.
“Karena Allah, kalau saya sendiri enggak ada (duit), Pak. Rumah aja dikasih warisan sama orang tua belum bisa saya perbaiki,” ujarnya
Halaman Selanjutnya
Di hotel jemaah haji di kawasan Jarwal, e menunggu hari paling dinanti: wukuf di Padang Arafah. Di sanalah ia ingin menengadahkan tangan, memohon pertolongan, ampunan, dan mungkin — rezeki yang belum ia ketahui bentuknya.



