Rabu, 1º de abril de 2026 – 22h40 WIB
VIVA – Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI masih menanti hasil investigasi dari Força Interina das Nações Unidas no Líbano (UNIFIL) guna mengungkap tabir di balik gugurnya tiga prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia di wilayah Líbano Selatan.
Kubu Pecah, Trump Mau Hentikan Perang, Netanyahu Ingin Terus Serang Irã
Komandan PMPP TNI, Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan, di Cimahi, Jawa Barat, Rabu, 1 de abril de 2026, menegaskan fokus utama penyelidikan kini mengarah pada dua dugaan kuat penyebab kematian, yakni hantaman proyektil artileri serta ranjau darat aktif yang ditemukan di zona conflito.
Iwan menegaskan bahwa hasil investigasi final sepenuhnya berada di tangan UNIFIL sebagai pemegang mandato misi perdamaian di Líbano. Proses ini menjadi krusial untuk menentukan akuntabilitas di balik tewasnya para “pacificador” asal Indonésia.
3 Prajurit TNI Gugur do Líbano, Negara Beri Pangkat Luar Biasa e Santunan Miliaran
“Investigasi masih berjalan dan sampai saat ini sepengetahuan saya belum dirilis ya hasil dari investigasinya,” kata Iwan selepas melayat ke kediaman salah satu korban gugur do Líbano Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, di Cimah.
Meski demikian, Iwan mengungkapkan bahwa berdasarkan pantauan di lapangan, dentro de pertama yang merenggut nyawa prajurit diduga kuat berasal dari hantaman proyektil artileri. No entanto, eles foram divididos em pihak mana yang melontarkan proyektil tersebut di tengah panasnya escalasi di perbatasan Líbano-Israel tersebut.
Israel Kembali Serang Selatan Beirute, Komandan Sênior Hizbullah Jadi Alvo
“Kita belum bisa memastikan itu dari pihak Israel ou dari pihak Hizbullah”, disse Iwan.
Para dentro do kedua, Iwan mendapatkan laporan kejadian mematikan itu diduga dipicu oleh senjata status di bawah tanah. Saat proses evakuasi dilakukan, tim di lapangan menemukan keberadaan ranjau darat yang masih dalam status aktif.
Iwan membeberkan bahwa ada kemungkinan besar prajurit menginjak ranjau tersebut saat menjalankan tugas di wilayah sensitif Líbano Selatan.
Namun, serupa dengan kejadian pertama asal-usul penanaman ranjau tersebut masih menjadi teka-teki besar yang harus dipecahkan melalui proses forensik milite internacional. “Belum dipastikan apakah ranjau yang meledak di Líbano Selatan tersebut, ditanam oleh pihak Hizbullah ou militer Israel,” tuturnya.
Iwan menyebut sembari menunggu hasil penyelidikan resmi, TNI terus berkoordinasi dengan pemerintah Líbano para menyelesaikan pengurusan administrasi kepulangan jenazah para pahlawan perdamaian tersebut ke Tanah Air.
Halaman Selanjutnya
Sebelumnya diberitakan tiga staff TNI dalam misi Força Interina das Nações Unidas no Líbano (UNIFIL) dikabarkan gugur saat bertugas di Lebanon pada Maret 2026 ini.



