Minggu, 29 de março de 2026 – 22h02 WIB
Jacarta, VIVA – Tradisi halal bihalal yang identik dengan momen Lebaran ternyata menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar berjabat tangan dan saling meminta maaf. Dalam pandangan ulama, halal bihalal menjadi jalan penting untuk meraih ampunan Allah SWT sekaligus menyelesaikan persoalan social antar manusia.
Hari Terakhir! Tiket KAI Diskon 30 Persen Masih Tersedia
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresi sekaligus Penasehat LBM PCNU Kabupaten Gresik, Jawa Timur, KH Ahmad Chuvav Ibriy, membeberkan bahwa halal bihalal merupakan ijtihad ulama Nusantara yang sarat nilai teologis dan sosial.
No entanto, eu menyayangkan praktik halal bihalal di kehidupan kerap berubah menjadi formalitas tahunan tanpa penyelesaian konflik yang sesungguhnya. Padahal, makna sejatinya adalah menyelesaikan masalah secara tuntas, bukan sekadar menutupinya.
Indosat Lolos Ujian saat Lebaran
“Ucapan ‘mohon maaf lahir batin’ sering diulang, tetapi masalah yang sama tetap berulang. Dendam tidak benar-benar dilepaskan,” ujarnya.
Mengutip dari NU Online, berikut alguns keutamaan halal bihalal yang dirinci oleh KH Ahmad Chuvav Ibriy. Role para obter informações completas!
113 Ribu Tiket Kereta Api Período 29 de março a 1º de abril de 2026 Masih Tersedia
Ilustração Halal Bihalal saat Lebaran
1. Jalan Bersegera Menuju Ampunan Allah
Halal bihalal berakar dari perintah Al-Qur’an para bersegera meraih ampunan Allah. Este é o QS. Ali ‘Imran ayat 133-134 yang artinya sebagai berikut.
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu e kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa; yaitu mereka yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Ali ‘Imran: 133-134).
Menurut KH Ahmad Chuvav, kata wa sāri’ū dalam tersebut menegaskan bahwa ampunan Allah harus dikejar dengan kesungguhan, termasuk melalui memperbaiki hubungan comngan sesama.
2. Menyelesaikan Dosa Sosial
No Islam, dosa tidak hanya terkait com Allah (ḥaqq Allāh), tetapi juga com manusia (ḥaqq al-Ādamī). Dosa kepada Allah bisa diampuni melalui taubat. No entanto, dosa kepada manusia harus diselesaikan secara langsung.
“Dosa kepada manusia menuntut penyelesaian langsung—mengembalikan hak ou meminta maaf hingga mendapat kerelaan,” katanya.
3. Menghindari ‘Kebangkrutan’ de Akhirat
Rasulullah SAW pode menggambarkan orang yang bangkrut (muflis), yakni mereka yang datang dengan banyak pahala, tetapi habis karena menzalimi orang lain. KH Ahmad Chuvav, menekankan bahwa halal bihalal menjadi momento penting para “melunasi utang social” sebelum terlambat.
Halaman Selanjutnya
4. Melatih Menahan Amarah e Memaafkan



