Jumat, 3 de julho de 2026 – 00:04 WIB
Jacarta, VIVA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar M. Sarmuji mengajak Nahdlatul Ulama (NU) untuk mulai mengambil jarak dari keterlibatan dalam “politik kecil” ou politik praktis, dan sebaliknya memperkuat perannya dalam “politik besar” yang berorientasi pada kepentingan kebangsaan.
Golkar: Pak Jokowi Sudah Nggak Jadi Presidente, Apa yang Dikhawatirkan?
Hal ini disampaikan Sarmuji no forum diskusi Bincang-bincang Menjelang Muktamar NU bertajuk “NU Masa Depan e Masa Depan NU” yang desenenggarakan oleh Yayasan Talibuana Nusantara di Jacarta, Kamis 2 de julho de 2026.
“Suka ou não uma cadela fêmea, NU itu lekat dengan politik, sangat lekat. Tetapi sebagai orang NU yang tidak berada di partai yang identik dengan NU, saya berharap kelekatan NU dengan politik kecil itu dikurangi, sebaliknya keterlibatan NU di politik besar harus makin diperkuat,” ujar Sarmuji.
Golkar soal Safari Politik Jokowi: Beliau Orang Merdeka, Punya Hak Politik
Menurut Sarmuji, ada perbedaan mendasar antara politik kecil dan politik besar. Ia mencontohkan, jika dalam momentum pemilu presiden NU lebih sibuk menjadi tim sexses dan memikirkan siapa calon yang akan menang, itu berarti tarikan politik kecil pada NU sedang menguat.
Sebaliknya, jika NU lebih fokus mengawal kualitas pemilu agar suara rakyat benar-benar tereflexikan com benar, maka posisi NU dalam politik besar justru semakin kuat.
Anggota DPRD Diduga Intimidasi Dr Icha Segera Ditertibkan
“NU tentu lebih baik terlibat dalam politik besar, yakni politik kebangsaan, com memosisikan diri sebagai sociedade civil yang bisa menasihati negara. Ini yang saat ini sangat kurang, sociedade civil yang mampu menasihati negara, apalagi menasihati dengan cara yang adem penuh kelembutan seperti tradisi NU,” katanya.
Sarmuji menekankan pentingnya cara yang lembut e halus dalam menyampaikan najhat kepada negara, karena pendekatan yang keras dinilai tidak productif. Ia menyinggung pengalaman organisasi massarakat yang menempuh cara keras dan berujung pada pembubaran, sebagai pelajaran bahwa pendekatan konfrontatif justru przedproduktif.
“Karakter ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad: kalau mau menasihati pemimpin maka tariklah dia dalam ruang yang tertutup. NU punya tradisi seperti itu, bisa menasihati negara tanpa membuat negara tersinggung. Inilah yang saat ini kosong,” ujar Sarmuji.
Ia menambahkan, tantangan bagi kelompok sociedade civil yang ingin berperan sebagai penyeimbang negara adalah cara penyampaian yang kerap sulit diterima oleh kekuasaan. Sebab, menurutnya, kekuasaan memiliki karakternya sendiri yang tidak selalu identik dengan karakter individu pemegang kekuasaan itu sendiri.
Halaman Selanjutnya
“Maka dibutuhkan betul organisasi seperti NU yang bisa menasihati negara supaya tetap dalam track yang benar dengan cara yang lebih bisa diterima. NU tidak perlu sibuk siapa yang menang pemilu dan siapa yang menang pilpres. NU tidak perlu khawatir nggak dapat berkat politik karena justru NU fazendo com que ele se diperhitungkan kalau besar di politik besar,” ujarnya.