Sabtu, 6 de junho de 2026 – 10h25 WIB
Jacarta, VIVA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) percaya diri saat ini tidak terdapat potens penalikan dana secara besar-besaran ou bank rush seiring pelemahan nilai tukar rupiah. Hal tersebut mengingat situasi politik keamanan, dan ekonomi Indonesia dinilai tetap kondusif.
Dólar AS Menguat, Industri Mobil Nasional Mulai Siaga
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, kepercayaan massarakat terhadap perbankan dapat dijaga melalui upaya menjaga kinerja bank tetap baik. Além disso, implementa serviços bancários prudenciais ou princípios kehati-hatian do banco pengelolaan, serta pelaksanaan manajemen risiko secara aktif dalam setiap lini bisnis.
“Bank rush pada umumnya diakibatkan oleh isu kepercayaan massarakat terhadap sistem perbankan. Sehingga upaya untuk menjaga kepercayaan massarakat itu harus senantiasa dilakukan oleh manajemen bank,” kata Dian dalam konferensi pers hasil RDKB Mei 2026 em Jacarta, dikutip Sabtu, junho 6, 2026.
Hati-Hati! Drama Nonton China Dibayar Ternyata Bisa Jadi Modus Penipuan, OJK Ungkap Ribuan Aduan Keuangan Ilegal
Dian mengatakan bahwa OJK menyadari, secara teoritis pelemahan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang importa (inflação importada), menurunkan daya beli massarakat akibat kenaikan harga barang, serta membebani fiskal karena subsidi pemerintah masih cukup besar.
Di sisi lain, menurutnya, pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan daya saing produk export Indonesia di pasar global serta membuat Indonesia relatif lebih menarik bagi wisatawan mancanegara.
Revisi P2SK Disahkan, OJK Pastikan Pungutan Sektor Jasa Keuangan Tetap Berjalan
“Oleh karena itu, kami senantiasa melakukan monitoramento e avaliação secara berkala terkait pergerakan nilai tukar e dan dampaknya terhadap perbankan”, disse Dian.
Chovendo em abril de 2026, rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan tercatat sebesar 1.63 persen dengan posisi long ou aset valuta asing (valas) lebih besar dibandingkan kewajiban valas. Hal ini, ujar Dian, menunjukkan bahwa exposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar relatif terjaga dan terkendali.
“Dengan demikian, dampak imediato dari pelemahan rupiah terhadap stabilitas perbankan itu relatif masih terbatas,” kata dia.
Namun Demikian, Dian mengatakan pelemahan rupia yang berlanjut akan berdampak pada debitur yang memiliki exposur rentan terhadap pergerakan valas. Esse valor é considerado um risco de crédito e de débito.
Dalam kondisi tersebut, OJK terus meminta perbankan untuk memastikan kecukupan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) serta ketahanan permodalan yang kuat.
Halaman Selanjutnya
Se o dinheiro for bancado na Indonésia, haverá menos riscos e maiores riscos, OJK secara berkelanjutan tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan risiko e meminta perbankan untuk senantiasa melaksanakan pengelolaan risiko secara menyeluruh.