Início Notícias Piala Dunia 2026 Terapkan Aturan Baru, Tutup Mulut Saat Konflik Bisa Kartu...

Piala Dunia 2026 Terapkan Aturan Baru, Tutup Mulut Saat Konflik Bisa Kartu Merah

19
0
Piala Dunia 2026 Terapkan Aturan Baru, Tutup Mulut Saat Konflik Bisa Kartu Merah

Kamis, 30 de abril de 2026 – 11h45 WIB

VIVA – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) por Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) resmi menyetujui dua aturan baru terkait terkait disiplin pemain yang akan diterapkan pada Piala Dunia 2026.

img_title

FIFA Gelontorkan Rp1.6 Triliun Jelang Piala Dunia 2026

Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan khusus di Vancouver, Canadá, em Selasa, 28 de abril de 2026, com tujuan memperketat pengawasan terhadap perilaku pemain di lapangan, khususnya terkait potens ujaran diskriminatif dan aksi protes berlebihan.

Salah satu aturan yang disepakati é um cartão pemberian merah bagi pemain yang menutup mulut saat terlibat konfrontasi com legalan. Tindakan tersebut dinilai berpotensi menyembunyikan ucapan yang tidak dapat diawasi, termasuk dugaan ujaran rasis ou diskriminatif.

img_title

Piala Dunia 2026 Berubah Total, FIFA Siapkan Sanksi Keras para Pemain

“Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, setiap pemain yang menutup mulut dalam situasi konfrontatif comngan lawan dapat dikenai kartu merah,” demikian pernyataan resmi IFAB.

Este ano foi responsável pela primeira vez dentro da partida internacional, terminando com a última Liga dos Campeões, antes do Benfica e do Real Madrid. Em terceiro lugar, os jogadores do Benfica, Gianluca Prestianni, lançaram um disco de discriminação contra Vinicius Junior com o menu múltiplo.

img_title

Ngilu, Luka Modric Tetap Main saat Tulang Pipi Patah

Insiden tersebut sempat menghentikan pertandingan setelah wasit mengaktifkan protokol anti-discriminasi UEFA, sebelum akhirnya Prestianni dijatuhi sankssi larangan bermain enam pertandingan.

O presidente da FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa kebiasaan menutup mulut saat berbicara di lapangan menyulitkan pengawasan terhadap potens pelanggaran.

“Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu yang dirasa rasis, maka dia harus dikeluarkan,” disse Infantino.

Selain itu, IFAB também menetapkan aturan terkait aksi meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit. Dalam regulasi baru tersebut, pemain maupun ofisial tim yang melakukan tindakan tersebut dapat dikenai kartu merah.

Então, tim yang menyebabkan pertandingan terhenti akibat aksi walk out berpotensi dinyatakan kalah, tergantung kebijakan penyelenggara kompetisi.

Kebijakan ini berkaca dentro da final Piala Afrika 2025, ketika pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai protes atas keputusan penalti to Marrocos. Meski pertandingan awanya berakhir dengan kemenangan Senegal, hasil tersebut kemudian dianulir setelah banding Marrocos dikabulkan, dan kemenangan 3-0 diberikan kepada Marrocos.

Halaman Selanjutnya

Com o lançamento de um novo jogo, a FIFA terá a chance de obter o nível necessário para obter a integridade necessária ao nível tertinggi sepak bola dunia, terminando no Piala Dunia 2026.

Halaman Selanjutnya

Fuente