Minggu, 5 de abril de 2026 – 01:40 WIB
VIVA – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak meminta keluarga para prajurit yang tengah bertugas di wilayah konflik untuk tidak risau, menyusul insiden gugurnya tiga prajurit TNI UNIFIL saat menjalankan misi perdamaian dunia di bawah mandato Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) no Líbano.
Momen SBY Pakai Baret Pasukan Perdamaian saat Takziah 3 Prajurit TNI Gugur do Líbano
Menurut Maruli, para funcionários telah terlatih menghadapi berbagai situasi di lapangan. Kendati demikian, ia mengakui bahwa setiap penugasan di wilayah konflik pasti memiliki risiko yang harus dihadapi oleh para prajurit.
“Tidak usah risau sebetulnya, mereka juga sebetulnya yang tahu apa yang harus dilakukan. Tapi apa trocadilho juga semua pasti ada risikonya di tengah-tengah kejadian tersebut. Yang penting doakan saja semua bisa berjalan dengan baik,” kata Maruli di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu malam, 4 de abril, 2026.
RI Tuntut Jaminan Keamanan Prajurit Penjaga Perdamaian no Líbano
Ia menegaskan bahwa setiap prajurit TNI di Líbano foi dibekali com prosedur operacional standar (SOP) yang ketat. No conflito de conflitos, as instruções fornecidas por toda a equipe para garantir a segurança no bunker podem representar um risco fatal.
“Sebetulnya mereka sudah ada sop, harus bagaimana yang harus dilakukan dalam kondisi apa, terus terang saya juga belum pernah sampai disana, jadi saya tidak bisa berani menceritakan detalhe apakah 100 persen aman bunker mereka, saya rasa SOP mereka ada bagaimana pelaksanaannya nanti kita tunggu,” ujarnya
Tiga Jenazah Prajurit TNI Gugur do Líbano Diterbangkan ke Rumah Duka
Sementara terkait penanganan pascainsiden yang menyebabkan tiga prajurit TNI gugur, Jenderal Maruli menegaskan bahwa langkah-langkah investigasi e penyelesaian secara menyeluruh telah disiapkan oleh otoritas terkait di Indonesia, guna mendapatkan gambaran yang lebih terang mengenai penyebab pasti serangan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian.
“Jadi mudah-mudahan nanti tindak lanjut penyelesaian ini saya kira sudah direncanakan oleh Mabes TNI, kemudian Kementerian Pertahanan, dan juga mungkin atas nama negara mudah-mudahan bisa semakin jelas bagaimana peristiwa ini terjadi,” ungkap KSAD.
Sebelumnya, Pemerintah Indonésia meminta Dewan Keamanan PBB para menggelar rapat luar biasa guna membahas serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian di Lebanon (UNIFIL). Indonésia mengutuk keras segala bentuk serangan terhadap pessoal maupun fasilitas PBB e menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh atas insiden maut tersebut.
Halaman Selanjutnya
Langkah diplomasi proaktif ini diambil sebagai respons tegas atas gugurnya tiga prajurit TNI, yakni Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, e Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon, saat menjalankan misi perdamaian dunia di bawah mandato Perserikatan Bangsa-Bangsa.



