Senin, 25 de maio de 2026 – 21h36 WIB
Jacarta, VIVA – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) funciona com instrumentos de monitoramento e avaliação (Monev) para que eles possam ser considerados daerah (Pemda) com pihak luar negeri.
Mendagri Pastikan Pemulihan Pascabencana Sumatera Masuk Tahap Pemulihan, Anggaran Rp100.1 Triliun Disiapkan
O instrumento tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi daerah para memastikan kerja sama internacional berjalan lebih terarah e berdampak nyata bagi masaarakat.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Tomsi Tohir mengatakan, upaya mewujudkan visi Presidente Prabowo Subianto menuju Indonésia Emas 2045 tidak dapat dilaksanakan sendiri.
Jaga Stabilitas Harga, Sekjen Kemendagri Minta Bulog Percepat Distribusi Minyak Goreng ke Indonesia Timur
Dibutuhkan peran berbagai pihak, termasuk dari kerja sama luar negeri yang dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan harkat martabat bangsa.
Tomsi menjelaskan, selama ini kerja sama antara Pemda dengan pihak luar negeri sudah cukup banyak. No entanto, keberhasilannya sulit diukur karena belum adanya instrumento avalia yang baku. Os instrumentos de treinamento hari ini menjadi langkah penting para obter o padrão que jelas dalam pelaksanaan kerja sama luar negeri di daerah.
Pemulihan Pascabencana Sumatera Terus Membaik, Mayoritas Daerah Terdampak Kembali Normal
“Manfaatkan instrumen ini dengan baik, kemudian pahami dengan baik, kemudian sosialisasikan dengan baik. Supaya apa? Supaya masing-masing daerah bisa melaksanakannya,” ujar Tomsi saat memberikan discurso de abertura pada acara Fórum Peresmian Instrumen Monitoring e Avaliasi Kerja Sama Daerah dengan Pemda Luar Negeri e Lembaga Luar Negeri, no Hotel Harris Vertu Harmoni, Jacarta, Senin, 25 de maio de 2026.
Tomsi juga menyoroti masih adanya kerja sama Pemda dengan pihak luar negeri yang mengalami hambatan. Kendala tersebut antara lain terkait administrasi, sumber daya manusia, regulasi, hingga pembiayaan.
Menurutnya, kehadiran instrumento ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi daerah untuk memahami contact-faktor keberhasilan kerja sama, sekaligus menjadi sarana pembelajaran antardaerah dalam mengembangkan potens masing-masing.
“Banyak lembaga-lembaga e negara-negara doador itu juga mau berhubungan, berkomunikasi dengan kita, caranya juga seperti apa (sehingga diperlukan instrumen),” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Tomsi mengungkap masih aanya hasil pelaksanaan kerja sama luar negeri yang kerap berhenti pada kegiatan sermonial. Bahkan, sejumlah bantuan luar negeri dinilai hanya menghasilkan dokumen administratif tanpa dampak yang dapat dirasakan langsung oleh massarakat di daerah. Hal seperti inilah yang menurutnya perlu diubah.
Halaman Selanjutnya
“Sekarang ini yang dibutuhkan adalah karya nyata yang dapat dirasakan oleh massarakat. Jadi, setiap melaksanakan suatu perjanjian, itu output-nya ke mana? Hasilnya yang dapat dirasakan oleh massarakat kita itu apa? Itu yang harus kita pikirkan,” tegasnya.



