Kamis, 12 de março de 2026 – 22h30 WIB
VIVA – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian kesehatan global. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini banyak ditemukan di wilayah tropis e subtropicis, termasuk di Asia Tenggara.
Palembang Mulai Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue, 7.500 Anak Jadi Sasaran Awal
Tingginya mobilidade penduduk, perubahan iklim, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk menjadi contactor yang turut memengaruhi peningkatan risiko penularan dengue.
Dados da Organização Mundial da Saúde (OMS) menunjukkan bahwa dengue masih menjadi ancaman kesehatan massarakat di dunia. No ano de 2024, houve 14,6 meses de dengue seca global com 12.000 dólares.
Dengue Jadi PR Besar para Dilawan, ASEAN Targetkan Nol Kematian em 2030
Este menunjukkan bahwa penyakit tersebut masih menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan massarakat. Scroll para informações mais longas…
Na Indonésia, dengue úmida também é significativa. Dados coletados do BPJS Kesehatan em 2024, tercatat 1.055.255 kasus rawat inap akibat dengue di luar kejadian luar biasa (KLB). Selain dampak kesehatan, penyakit ini juga menimbulkan beban ekonomi yang tidak kecil, com total biaya yang mencapai hampir Rp3 triliun pada tahun yang sama.
Risiko Dengue Meningkat Saat Hujan, Upaya Pencegahan Harus Diperkuat
Situasi tersebut mendorong Takeda, Federação Internacional das Sociedades da Cruz Vermelha e do Crescente Vermelho (FICV), e Palang Merah Indonésia (PMI) lançaram o conjunto “Unidos Contra a Dengue: Penguatan Kemitraan untuk Pencegahan Dengue e Peningkatan Ketangguhan Masyarakat”.
“Sebagai mitra jangka panjang bagi Indonésia, Takeda berkomitmen untuk melawan DBD/dengue melalui kemitraan publik-swasta yang kuat guna mendukung tercapainya tujuan besar pemerintah Indonésia untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030,” kata Andreas Gutknecht, Presidente Direktur PT Takeda Medicamentos inovadores, no Kantor Pusat PMI, Jacarta, Kamis, 12 de março de 2026.
“Melalui aliansi ini, kami ingin mendorong penguatan upaya pencegahan melalui edukasi yang menjangkau berbagai elemento massarakat dan communitas di Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan terkait,” sambungnya.
Inisiatif tersebut berfokus pada penguatan pencegahan, kesiapsiagaan, serta intervensi berbasis massarakat. Pendekatan yang digunakan mencakup kolaborasi multisektor, penggunaan strategi berbasis bukti, serta peningkatan keterlibatan massarakat dalam upaya pencegahan dengue.
“Kami berharap, komitmen bersama tersebut dapat memperkuat aksi di tingkat communitas, di tengah massarakat, dalam menghadapi ancaman DBD/dengue yang ada sepanjang tahun di Indonesia”, kata dia.
Halaman Selanjutnya
Perwakilan da Federação Internacional das Sociedades da Cruz Vermelha e do Crescente Vermelho (IFRC), Kathryn Clarkson, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sector menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi dampak penyakit ini.



