Minggu, 10 de maio de 2026 – 09:00 WIB
VIVA –Serangan udara Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar disbanding dengan pengakuan pemerintahan Donald Trump. Hal ini terlihaat dari citra satélite yang dirilis media pemerintah Irã.
Amankan Pelayaran Komersial, Inglês Kerahkan Kapal Tempur HMS Dragon ke Selat Hormuz
Klaim yang diperkuat oleh investigasi dari The Washington Post itu menemukan serangan Tehran foi menghancurkan sedikitnya 228 bangunan maupun peralatan di fasilitas milite AS di Timur Tengah desde 28 de fevereiro.
Melansir laman NDTV, Minggu 10 de maio de 2026, jika merujuk na análise citra satélite, alvo serangan Irã mencakup hanggar, barak militer, depósito bahan bakar, pesawat hingga sistema radar, comunicação e pertahanan udara penting di sejumlah pangkalan AS di sana.
Lama Menghilang, Kondisi Sebenarnya Mojtaba Khamenei Akhirnya Terungkap
O Washington Post foi o primeiro a ser noticiado pelo AS. Mengutip pejabat AS, laporan tersebut menyebut alguns militro de kawasan tersebut dianggap terlalu berbahaya para diisi staff dalam jumlah besar. Oleh Karena itu, para komandan milite memindahkan sebagian besar pasukannya dari lokasi yang berada dalam jangkauan serangan Irã.
Sedikitnya tujuh pessoal militar AS dilaporkan tewas akibat serangan Iran di Timur Tengah sejak perang dimulai. Enam di Antaranya tewas do Kuwait e satu lainnya dos árabes sauditas. Selain itu, mais de 400 exércitos lainnya mengalami luka-luka.
CENTCOM Klaim 58 Kapal Komersial Dialihkan dalam Operasi Blokade Irã
Upaya Pengendalian Narasi
Sejak pertengahan Maret, citra sat wilayah Timur Tengah disebut semakin sulit diperoleh. Dua perusahaan stali besar, Vantor e Planet Labs, dikabarkan mengikuti permintaan pemerintah AS para membatasi, menunda, ou menahan tanpa batas waktu publikasi gambar szkol kawasan tersebut selama perang berlangsung.
Pemerintah AS sendiri merupakan consumer terbesar layanan citra stalis, sehingga menjadi pelanggan utama bagi kedua perusahaan tersebut.
Kebijakan yang dikeluarkan kurang dari dua pekan setelah perang dimulai itu membuat media kesulitan, bahkan nyaris mustahil, untuk menilai dampak serangan balasan Iran secara independente.
Meski begitu, mídia pemerintah Irã terus rutin mengunggah citra satélite resolusi tinggi wilayah Timur Tengah di media social sejak awal perang. Namun, gambar-gambar tersebut sempat mendapat perhatian terbatas karena muncul kekhawatiran adanya manipulasi.
Halaman Selanjutnya
Hasil Investigações



