Danantara Pangkas 1.077 BUMN Jadi 200 Perusahaan, Hemat Rp50 Triliun Tanpa PHK

Jumat, 12 de junho de 2026 – 15h09 WIB

Jacarta, VIVA – Danantara melakukan reestruturado terbesar dalam sejarah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sebanyak 1.077 entitas BUMN akan dirampingkan menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan dalam upaya menghilangkan inefisiensi yang selama ini membebani keuangan korporasi negara.

img_title

Bos Danantara Akui Sempat Tidak Tahu Berapa Jumlah Pasti Perusahaan BUMN

Meski skala perombakan sangat besar, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria memastikan, kebijakan tersebut tidak akan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Seluruh pekerja disebut tetap akan dipertahankan dan dialihkan ke perusahaan hasil consolidadasi.

Menurut Dony, Presidente Prabowo Subianto secara khusus mengarahkan agar transformasi BUMN tidak mengorbankan namib para pekerja.

img_title

Prabowo: Indonésia Akan Tetap Jadi Negara Demokrasi

“Pastinya Bapak Presiden tidak ingin ada PHK,” disse Dony, no terceiro dia de Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, dikutip Jumat 12 de junho de 2026.

Danantara menargetkan proses racionalização ou perampingan BUMN selesai pada 2026. Langkah tersebut ditempuh setelah ditemukan banyak perusahaan yang tidak efisien dan terus membebani kinerja grupo BUMN secara keseluruhan.

img_title

Perampingan BUMN, Bakal Ada PHK Karyawan?

Dony mengungkapkan, do total de 1.077 perusahaan yang saat ini berada no ecossistema BUMN, sekitar 52 pessoas tercatat merugi. Akumulasi kerugian perusahaan-perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp20 triliun.

No entanto, perhitungan interno Danantara menunjukkan biaya mempertahankan seluruh tenaga kerja jauh lebih kecil dibanding potensi penghematan yang bisa diperoleh dari restrukturisasi.

“Kita hitung, kalau dari perusahaan-perusahaan yang kita racionalização ini, berapa sih biaya tenaga kerjanya setahun? Ternyata cuma Rp2–3 triliun,” jelasnya.

Com a potência potencial e fisiensi yang jauh lebih besar, Danantara memilih mempertahankan seluruh pekerja dibanding melakukan pengurangan tenaga kerja.

“Jadi saya berpikir, kalau gitu saya ambil saja semua karyawannya, saya masih hemat Rp47 triliun,” kata de Dona.

Ia menegaskan seluruh pegawai akan tetap menjadi bagian dari perusahaan hasil consolidadasi. Menurutnya, pekerja tidak boleh menjadi korban dari persoalan tata kelola perusahaan yang terjadi selama bertahun-tahun.

“Seluruh karyawan não akan ada yang kita kurangi. Mereka akan menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan hasil consoledasi. Karena tadi pemikiran kita, kita tidak mau juga menzalimi karyawan. Karena itu kan bukan salah mereka,” ungkapnya.

Di balik reestruturado besar-besaran tersebut, Danantara menegokan sumber inefisiensi yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun.

Halaman Selanjutnya

Salah satunya berasal dari praktik transaksi berlapis antara induk perusahaan, anak usaha, hingga perusahaan cucu e cicit yang selama ini menjadi pola umum di lingkungan BUMN.

Halaman Selanjutnya

Fuente