Início Notícias Buya Yahya: Dua Ibadah Ini Dilakukan mínimo em 10 Malam Terakhir Ramadhan

Buya Yahya: Dua Ibadah Ini Dilakukan mínimo em 10 Malam Terakhir Ramadhan

18
0
Buya Yahya: Dua Ibadah Ini Dilakukan mínimo em 10 Malam Terakhir Ramadhan

Jumat, 13 de março de 2026 – 12h12 WIB

Jacarta, VIVA – Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Durante o período em que o muçulmano é dianjurkan para meningkatkan ibadah, Karena terdapat kemungkinan datangnya malam Lailatul Qadar, yang disebut dalam Al-Quran sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

img_title

Lailatul Qadar 1447 H Diprediksi Jatuh pada Malam ke-25 Ramadhan, Ini Penjelasan Imam Ghazali

Banyak orang berusaha menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah seperti salat malam, membaca Al-Quran, hingga berzikir. No entanto, nenhum orang mampu menjalankan berbagai amalan secara maximamente karena keterbatasan waktu, tenaga, ou kesibukan.

Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya menjelaskan bahwa sebenarnya ada dua ibadah penting yang mínimo perlu dijaga oleh umat Muslim pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Menurutnya, dua ibadah ini menjadi dasar yang sangat penting untuk meraih keberkahan malam-malam istimewa tersebut.

img_title

Buya Yahya Jelaskan soal Anjuran Itikaf em 10 Hari Terakhir Ramadhan

Ia menekankan bahwa hal pertama yang harus dijaga adalah melaksanakan salat berjamaah, terutama salat Isya dan Subuh. Dalam pandangannya, dua salat ini memiliki keutamaan besar, apalagi jika dilakukan secara konsisten selama sepuluh malam terakhir Ramadhan.

“Kemudian kalau mau itikaf paling gak menghidupkan malam Ramadhan untuk nyambut lailatul qadar itu ideala adalah yang pastikan Anda salat Isya berymaah, salat subuh berymaah,” ujar Buya Yahya yang dikutip do canal YouTube-nya pada Jumat, 13 de março de 2026.

img_title

6 Bacaan Niat Zakat Fitrah Lengkap para Diri Sendiri e Keluarga

Selain menjaga salat berjamaah, Buya Yahya juga mengingatkan pentingnya menjaga diri dari perbuatan maksiat. Menurutnya, ibadah yang dilakukan pada malam hari akan menjadi kurang bermakna jika seseorang masih melakukan perbuatan yang dilarang.

“Setelah itu Anda tidak maksiat,” ujarnya lagi.

Dalam penjelasannya, Buya Yahya também membahas tentang ibadah itikaf, yaitu berdiam diri di diri di masjid com niat beribadah kepada Allah. Ia menjelaskan bahwa itikaf tidak selalu harus dilakukan dalam waktu lama, khususnya bagi umat Muslim yang mengikuti mazhab Syafi’i.

“Sempurnanya lagi adalah paling banyaknya malam itu dihidupkan untuk beribadah. Kalau ingin milih aku gak bisa banyak aku hanya pengin 2 jam 3 jam saja. Boleh itikaf ambil kalau mazhab Syafi’i itikaf boleh waktu singkat,” katanya menjelaskan.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam mazhab Syafi’i, seseorang bisa mendapatkan pahala itikaf meskipun hanya berada di masjid dalam waktu singkat dengan niat beritikaf.

Halaman Selanjutnya

“Bukan mazhab lain mengatakan itikaf ada sehari semalam harus dibarengi puasa dan sebagainya. Mazhab Syafi’i gak. Kita masuk masjid niat itikaf keluar sudah dapat pahala Allah duduk sebentar lalu keluar,” jelasnya lagi.

Halaman Selanjutnya

Fuente