Senin, 13 de julho de 2026 – 15h02 WIB
Jacarta, VIVA – Professor Astronomi Badan Riset e Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin apresentou fenômenos de longo prazo e terlihat em Pulau Jawa em Sabtu malam, 11 de julho merupakan meteoro berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi.
Peneliti BRIN Soroti Korupsi da Indonésia: Sudah Jadi ‘Bencana yang Luar Biasa’
Melalui keterangan di Jacarta, Senin, Thomas memaparkan meteoro tersebut pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa sebelum terlihat dari wilayah Bekasi sekitar pukul 21/22/35 WIB. Pada saat itu, meteor masih berada pada ketinggian yang cukup tinggi, sehingga tampak sebagai objectk bercahaya putih berukuran relatif kecil.
“Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfera dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfera menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar, sehingga tampak sebagai meteoro,” katanya.
Namanya Seperti Orang Jawa, Bek Feyenoord Ini Pilih Diam saat Ditanya Kesediaan Bela Timnas Indonésia
Thomas menerangkan bahwa proses pijaran mulai terjadi ketika batuan antariksa memasuki atmosfera em ketinggian sekitar 120 quilômetros de atas permukaan Bumi.
Na fase seguinte, o material batuan mulai mengalami ablasi ou pengikisan akibat suhu yang sangat tinggi, sehingga menghasilkan cahaya terang yang dapat disaksikan dari permukaan Bumi.
Estratégia inicial Pemerintah Cegah Pemadaman Listrik di Jawa-Bali agar Tak Terulang
Berdasarkan analisis lintasannya, jelas Thomas, meteoro bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Ketika memasuki atmosfera yang mais rapat, objeto tersebut semakin terang dan mulai memperlihatkan perubahan warna yang berbeda-beda di berbagai local pengamatan.
Adaptado por wilayah Jawa Barat bagian timur, sejumlah lip Cirebon e Kuningan melaporkan mendengar suara dentuman algumas vezes saat setelah meteor melintas. Thomas menjelaskan bahwa suara tersebut bukan berasal dari ledakan di permukaan, melainkan gelombang kejut (sonic boom) yang terbentuk ketika meteor melaju com kecepatan sangat tinggi di atmosfera bawah.
“Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar algunsapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan,” ujarnya.
Di Majalengka, lanjut Thomas, meteoro dilaporkan tampak berwarna biru. Selanjutnya, o objeto foi o mesmo terlihat de Kawasan Nagreg sekitar pukul 21.23.37 WIB e Tasikmalaya sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan. Variasi warna tersebut merupakan fenômenos yang umum terjadi pada meteor karena dipengaruhi oleh composisi mineral penyusunnya serta kondisi atmosferas yang dilalui.
Halaman Selanjutnya
Ketika melintas di wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21/23/57 WIB, sejumlah lip menyaksikan meteor memancarkan cahaya hijau yang sangat terang.