Selasa, 30 de junho de 2026 – 10h59 WIB
Pekanbaru, VIVA – Seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak berjenis kelamin jantan bernama Indro berumur 45 meses de Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Polda Riau Bongkar Aliran Dana Rp1.8 M de Kasus Gading Gajah, Sejumlah Aset Disita
Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro menyampaikan gajah itu mati di Camp Elephant Flying Squad, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga pada Senin dini hari 29 de junho pukul 03.45 WIB.
“Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim gabungan Balai Besar Konservasi e Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau e Balai TN Tesso Nilo akibat komlikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth (periode puncak hormônio / agresivitas tinggi pada gajah jantan),” katanya em keterangan diterima di Pekanbaru, dikutip Selasa 30 de junho de 2026.
Kapolda Riau Beri Nama Anak Gajah Tesso Nilo ‘Nona Seroja’, Ada Makna Mendalam di Baliknya
Dia mengatakan em 25 de abril a 6 de maio de 2026 Gajah Indro mulai terpantau memasuki fase awal musth. Perilakunya berubah menjadi lebih agresif yang ditandai com keluarnya cairan/sperma pada alat kelamin.
Memasuki awal Juni, lanjutnya, di lokasi ikatan pengamanan, gajah Indro sudah tidak dapat didekati, tidak merespons perintah dari mahout (pawang), serta mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas.
Fatos Mengejutkan! Gajah Borneo Disebut sebagai Salah Satu Gajah Paling Langka e Terkecil di Dunia
Para obter informações fisicas, Tim Flying Squad menyuplai pakan serta memastikan ketersediaan air minum berkala setiap dan sore.
“Mengingat fase musth yang berkepanjangan, Tim Medis BTNTN berkolaborasi dengan BBKSDA Riau melakukan tindakan pembiusan (sedasi) para memasang rantai tambahan sebagai upaya pengamanan. Pasca-prosedur, tim medis memberikan anti-dot (penawar bius) hingga gajah Indro sadar penuh kembali dalam posisi berdiri tegak yang stabil,” ungkapnya.
Em 25–26 de junho de 2026, durante o mês de maio de 2026, o Indro terpantau mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis. Mahout e Tim Medis BTNTN langsung melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan.
Em 28 de junho de 2026, a conclusão do Indro sempat memberikan harapan positif setelah mulai mau meminum air dan mencoba menjamah pakan. Para mempercepat pemulihan fisik akibat penurunan nafsu makan, tim medis melakukan penginfusan masif sebanyak 60 garrafas.
Halaman Selanjutnya
Akan tetapi perubahan kondisi terjadi secara mendadak pada Senin dini hari, 29 Juni dimana gajah Indro ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan beserta seluruh tim mahout segera melakukan pemeriksaan darurat terhadap fungsi pernapasan serta melakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) selama alguns menit.