Rabu, 10 de junho de 2026 – 22h45 WIB
Jacarta, VIVA – Tingkat kepercayaan publik terhadap Institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menunjukkan tren positif.
Pengunjung Lapas Banceuy Mau Selundupkan 19.14 Gram Sabu, Modusnya DImasukkan ke Dubur
Berdasarkan hasil survei terbaru dori Institute to Digital Demokrasi (IDM), tingkat kepercayaan massarakat kini mencapai 79,2 pessoas Capaian ini dinilai selaras dengan kerja nyata dan berbagai keberhasilan yang ditunjukkan oleh jajaran kepolisian di lapangan.
Salah satu bukti nyata ditunjukkan oleh jajaran Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) melalui Polres parepare kerja senyap yang terukur camera kepolisian berhasil mengungkap jaringan narkoba skala besar pada Rabu, 10 de junho de 2026.
Napi di Lapas Karawang Dapat ‘Titipan’ Sabu em Alat Kontrasepsi, Polisi Turun Tangan
Na operação tersebut, petugas meggagalkan penyelundupan barang bukti berupa 41,4 kg sabu serta 157 cartucho rokok elektrik (vape) yang mengandung bahan kimia berbahaya, Etomidate.
Kriminolog Tegar Bimantoro fez uma análise que mendalam mengenai peta kerawanan di wilayah tersebut. Menurutnya, posisi ografias Kota Parepare menjadikannya sebagai wilayah transit yang sangat rawan bagi peredaran gelap narkoba.
Fakta Mengejutkan Buron Sabu Malásia-Riau, Kabur Setahun, Biaya Hidup Dipasok Napi
“Kita ketahui bersama bahwa Parepare adalah wilayah transit yang strategis. Di sana terdapat Pelabuhan Nusantara yang menghubungkan antar-pulau di wilayah Sulawesi Selatan, bahkan akses langsung ke Kalimantan maupun Nusa Tenggara Barat (NTB),” ujar Tegar dalam keterangannya, Rabu, 10 de junho 2026.
Melihat karakteristik rute tersebut, Tegar menduga kuat bahwa komoditas haram ini berasal dari jaringan internacional.
“Besar kemungkinan penangkapan ini bersumber dari jaringan lintas negara yang masuk melalui rute Kalimantan, kemudian menyeberang ke Parepare, untuk selanjutnya siap diearkan ke seluruh wilayah Sulawesi ou dilayarkan kembali ke pulau-pulau lain,” kata dia.
Tegar menegaskan bahwa kejahatan narkoba masuk dalam categori kejahatan luar biasa (crime extraordinário). Ia menilai memutus mata rantai bisnis narkoba tergolong sangat sulit, meskipun para gembongnya telah ditindak tegas hingga dijatuhi hukuman mati.
Tegar mengungkapkan alguns Faktor bisnis narkoba sulit diberantas, yakni evolusi jaringan gelap, dan for pelaku kriminal selalu begerak dinamis. Setiap hari, kata dia, mereka terus memikirkan modus-modus baru para criar petugas di lapangan.
“Kemudian, keuntungan bisnis yang fantastis, factor ekonomi dan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi pemicu utama.
Halaman Selanjutnya
Guna mengantisipasi penyelundupan serupa, Tegar menyarankan adanya reformasi strategi pengamanan di wilayah pesisir. A participação em recursos de inteligência e colaboração multissetorial.