Minggu, 31 de maio de 2026 – 10h10 WIB
Budapeste, VIVA – Kapten e o Arsenal andalano, Declan Rice, menegaskan bahwa timnya tetap solid e kompak baik dalam cadela maupun duka. Pernyataan ini dilontarkan Rice depois de The Gunners ter feito o mesmo, como o Paris Saint-Germain (PSG) na final da Liga dos Campeões, disputado na Puskas Arena, Budapeste, Hungria, Minggu dini hari WIB.
Mikel Arteta usou o Arsenal Kalah do PSG na Final Liga Champions
O Arsenal venceu o troféu Si Kuping Besar depois de 3-4 no drama do pênalti. Sebelumnya di waktu normal, gol de Kai Havertz berhasil dibalas oleh penalti Ousmane Dembele, yang memaksa laga berlanjut hingga babak tos-tosan. Langkah Arsenal akhirnya terhenti setelah tembakan penendang terakhir mereka, Gabriel Magalhães, melambung tinggi di atas mistar gawang.
Menanggapi kekalahan tragis tersebut, Declan Rice mengibaratkan adu penalti tak ubahnya sebuah lotere yang tidak bisa ditebak.
Ditekan Habis-habisan do PSG, Mikel Arteta Legawa Arsenal Gagal Angkat Trofi UCL
“Ini seperti lotere. Beberapa tim terbaik sepanjang sejarah juga pernah kalah lewat adu penalti di final, dan kali ini kami yang merasakannya,” ujar Rice kepada TNT Sport usai laga.
“Kami menang dan kalah bersama. Saya sangat bangga dengan para pemain ini,” tambah mantan pemain West Ham United tersebut.
Pertahankan Takhta Eropa, Luis Enrique Sebut Gelar Kedua PSG Lebih Sulit Diraih
Tetap Bangga com Musim yang Luar Biasa
Meski terpukul com o sucesso da competição Eropa, Rice foi rekan-rekannya para melihat pencapaian mereka secara keseluruhan. Depois de um tempo, o Arsenal se tornou um jogador doméstico com uma mudança na Liga Inglês para a vitória em 22 de janeiro de 2004 – seu maior sucesso na era The Invincibles no ano de 2004.
“Musim yang luar biasa! Saya sangat kecewa, tetapi saya juga mencoba melihat semuanya secara lebih utuh, mengingat dari mana kami memulai perjalanan ini pada Juli lalu dan di mana posisi kami sekarang. Kami akan kembali,” tegas pemain yang pernah membawa West Ham menjuarai Liga Conference itu.
Pasang Badan para Eze dan Gabriel
Rice juga memberikan pembelaan penuh kepada dua rekannya, Eberechi Eze e Gabriel Magalhães, yang gagal mengeksekusi penalti dalam laga krusial tersebut. Menurutnya, kegagalan adalah hal yang lumrah dalam sepak bola e tidak mengurangi kontribusi besar keduanya sepanjangmusim.
Halaman Selanjutnya
“Kami mencintai mereka e kami selalu mendukung mereka. Hal seperti ini memang terjadi dalam sepak bola. Mereka bukan pemain pertama dan juga bukan yang terakhir yang gagal mengeksekusi penalti di final. Tanpa mereka berdua, kami juga tidak akan memenangkan Liga Inggris,” Bela Rice.