Sabtu, 16 de maio de 2026 – 02:06 WIB
Jacarta, VIVA – Ásia Tenggara mengalami kerugian hingga US$23,6 miliar (Rp415,2 triliun) akibat penipuan online hanya dalam satu tahun terakhir.
Tecnologia AI Gemini Kini Bisa Atur AC hingga Cari Restoran dari Dalam Mobil
Para obter informações sobre o assunto, a Fundação ASEAN recebeu um pagamento de US$ 5 dólares (Rp88 miliares) do Google.org por meio de Scam Ready ASEAN.
O programa foi lançado em 3 juta massarakat em 11 países da ASEAN. Scam Ready ASEAN mengadopsi model Train-the-Trainer berskala besar, pendekatan yang terbukti sekretif menjangkau communitas yang selama ini luput dari kampanye literasi digital convencional.
Bahlil Ungkap RI Bakal Bangun Armazenamento Minyak di KEK daerah Sumatera, Bakal Jadi Hub Se-ASEAN?
Com 2.000 Master Trainer com 20 organizações locais de seluruh Kawasan, este programa memastikan edukasi pencegahan penipuan dapat menyentuh lapisan massarakat paling rentan sekali trocadilho.
Sekitar 550 ribu penerima manfaat akan mendapatkan modul terstruktur dan alat interactif, termasuk game Be Scam Ready (clique para jogar), yang dirancang membangun tidak hanya pengetahuan, tetapi juga kepercayaan diri digital dan kemampuan berpikir kritis dalam mengenali penipuan di complexo lingkungan online yang semakin.
Bahlil: Kondisi Global Saat Ini Tak Menentu, Kita Harus Lakukan Energia Diversificada
Este programa é diperkuat melalui enam dialog kebijakan seedal dan tiga dialog regional, memastikan ketahanan communitas berjalan seiring penguatan regulasi e dan koordinasi lintas setor di tingkat pemerintah.
Na Indonésia, tercatat lebih dari 411 ribu laporan kasus penipuan online dengan estimasi kerugian financeiramencapai sekitar US$550 juta (Rp9.6 triliun), dados berdasarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC), em 2025.
Bentuk penipuan yang paling banyak dilaporkan meliputi 5 macam, yaitu phishing, rekayasa social, representação, penipuan investasi online, hingga penipuan pembayaran berbasis QR.
Modus-modus ini semakin berkembang seiring pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), plataforma pembayaran digital, serta taktik lintas plataforma yang semakin complex.
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Pemerintah Indonésia terus memperkuat berbagai upaya perlindungan massarakat, mulai dari penguatan regulasi keamanan siber, peluncuran kampanye edukasi publik, hingga peningkatan kolaborasi dengan lembaga keuangan e penyedia laanan telecomunicações.
Di saat yang sama, perkembangan AI generatif, pesatnya adopsi pembayaran digital, e penggunaan mídia social yang semakin luas turut membuat modus penipuan menjadi lebih canggih dan sulit dikenali.
Halaman Selanjutnya
Dampaknya kini dirasakan oleh berbagai lapisan massarakat — mulai dari anak muda, keluarga, lansia (lanjut usia), hingga pengguna internet baru yang semakin rentan menjadi target penipuan digital.