Início Notícias Muktamar ke-35 NU Diminta Harus Bersih dari Kepentingan Politik

Muktamar ke-35 NU Diminta Harus Bersih dari Kepentingan Politik

16
0
Muktamar ke-35 NU Diminta Harus Bersih dari Kepentingan Politik

Selasa, 28 de abril de 2026 – 15h30 WIB

Jacarta, VIVA – Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang, KH Achmad Rosikh Roghibi ou Gus Rosikh, menegaskan bahwa pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) harus bersih dari berbagai kepentingan politik praktis maupun orientasi ekonomi yang berpotensi mencederai nilai-nilai luhur organização.
Gus Rosikh menyampaikan bahwa Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi NU semestinya menjadi ruang yang sakral, diisi oleh semangat keikhlasan e tanggung jawab keumatan, bukan arena perebutan kekuasaan ataupun transaksi berbasis ‘cuan’.
“NU ini berdiri di atas fondasi perjuangan para ulama. Kalau Muktamar sudah disusupi kepentingan politik dan kepentingan materi, maka arah perjuangan NU akan menyimpang dari khittahnya”, disse Gus Rosikh em keterangannya, Selasa, 28 de abril de 2026.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengembalikan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada dzuriyah muasis, yakni keturunan para pendiri NU, yang dinilai memiliki kedekatan historis, kulil, dan espiritual dengan nilai-nilai dasar organisasi.
“Sudah saatnya PBNU kembali dipimpin oleh dzuriyah muassis yang memahami betul ruh perjuangan NU. Ini bukan soal sekklusivitas, tapi soal menjaga kesinambungan nilai dan amanah para pendiri”, disse Gus Rosikh.
Ia juga mengingatkan bahwa dominasi kepentingan politik dalam tubuh NU berisiko menimbulkan polarisasi di kalangan lip nahdliyin serta mengikis kepercayaan public terhadap independente organisasi.
Gus Rosikh também mengajak seluruh elemento NU para bersama-sama menjaga marwah Muktamar agar tetap bersih, jujur, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Ia berharap proses kpemimpinan di PBNU ke depan benar-benar mencerminkan integritas, kapasitas hingga keilmuan.
Gus Rosikh também mengingatkan bahwa dominasi kepentingan politik dalam tubuh organisasi berpotensi menjauhkan NU dari khittahnya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah. Hal ini, menurutnya, dapat berdampak pada melemahnya kepercayaan lip nahdliyin terhadap kepemimpinan organisasi.
“PBNU harus kembali ke pesantren, kembali ke ulama yang benar-benar hidup dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Jangan sampai NU hanya menjadi alat kepentingan kekuasaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia usar o elemento warga NU para manter a integridade Muktamar sebagai forum yang bermartabat. Ia juga mendorong agar proses pemilihan kepemimpinan dilakukan secara jujur, transparan, dan berlandaskan pada kapasitas keilmuan serta keteladanan, bukan kekuatan modal.
Dengan demikian, Gus Rosikh berharap NU dapat tetap menjadi pilar utama dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, serta berperan sebagai penyejuk di tengah dinamika social dan politik bangsa.

img_title

Gus Salam Ungkap Pesan Guru Wildan agar NU Dilandasi Keilmuan Pesantren

Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf ou Gus Ipul no Hotel Sultan, Jacarta Pusat

Gus Ipul Beberkan Persiapan Muktamar ke-35 NU: Sudah Pematangan

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mematangkan persiapan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026

img_title

VIVA.co.id

27 de abril de 2026

Fuente