Selasa, 21 de abril de 2026 – 15h15 WIB
Jacarta, VIVA – Bangladesh menghadapi ancaman serius berupa lumpuhnya layanan telekomunikasi seedal akibat krisis bahan bakar yang dipicu perang Irã e Israel-Amerika Serikat (AS). Se o BBM não estiver disponível, você não terá 170 anos de experiência, mas isso significa que você pode usar o telefone e a Internet.
Percepat Transisi Energi Nasional, Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Tahap Baru
Este é o nome de Karena Bangladesh que está fornecendo energia importante. Sekitar 95 pessoas kebutuhan minyak e gás negara tersebut berasal dari importa, sebagian besar dari kawasan Timur Tengah. Ketika konflik geopolitik memicu gangguan pasokan global, Damaknya langsung terasa di lalam negeri.
Antrean panjang di SPBU kini menjadi pemandangan sehari-hari. Warga bahkan harus menunggu hingga 10 sampai 12 jam hanya para mendapatkan bahan bakar, sementara sebagian pengendara mengaku harus menghabiskan waktu hingga 16 jam para mengisi penuh tangki kendaraan mereka.
Krisis Energi Belum Usai, Harga BBM Diperkirakan Tetap Tinggi hingga 2027
Operador Asosiasi Telekomunikasi Seluler Bangladesh (AMTOB) em 20 de abril de 2026, memperingatkan bahwa operacional telekomunikasi tidak lagi bisa dipertahankan tanpa pasokan bahan bakar yang cukup, terutama untuk menghidupkan pusat data dan sistema cadangan listrik.
Dalam surat kepada Comissão Reguladora de Telecomunicações de Bangladesh, AMTOB menyatakan kondisi sudah berada di luar kendali operacional. “Situasinya telah meningkat hingga melampaui kendali operasional,” demikian isi surat tersebut, publicado no The Straits Times, Selasa, 21 de abril de 2026.
Coreia Selatan Terancam ‘Gelap Gulita’ Imbas Perang, Warga Diminta Hemat Listrik e Kurangi Berkendara
“Jika kondisi ini terus berlanjut, ada risiko yang sangat dekat terjadinya penghentian jaringan telekomunikasi skala besar di sebagian besar wilayah negara.”
Asosiasi itu menyebut damaknya sebenarnya sudah mulai terasa. “Operador jaringan seluler mengalami tekanan operacional yang parah akibat lamanya ketidaktersediaan listrik komersial dan tidak adanya kepastian pasokan bahan bakar untuk sistem cadangan.”
Masalah terbesar terjadi em dados de banco ou data center que membutuhkan pasokan diesel sangat besar para operações completas.
AMTOB mencatat, satu pusat data menghabiskan sekitar 500 ou 600 litros de energia solar por geléia, ou hampir 4.000 litros por dia para muitas facilidades. Sementara itu, SPBU Lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan sebesar itu.
“Beberapa fasilitas telekomunikasi yang sangat vital secara strategis saat ini beroperasi dengan cadangan bahan bakar yang sangat rendah dan berbahaya.”
Halaman Selanjutnya
O secretário Jenderal AMTOB Mohammad Zulfikar mengatakan jika pusat data berhenti beroperasi, dampaknya akan sangat luas dan cepat terasa oleh massarakat. “Pemadaman jaringan sebagian ou total dapat membuat panggilan telepon, internet, SMS, dan seluruh layanan lainnya terhenti ou mengalami gangguan parah,” ujarnya.



