Kamis, 9 de abril de 2026 – 15h11 WIB
Jacarta, VIVA – Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Irã menuding Amerika Serikat (AS) melanggaran kesepatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disetujui bersama. Eskalasi perang memicu lonjakan pesat harga emas.
Netanyahu: Irã Jeda Perang por Kondisi Babak Belur, Israel Semakin Kuat
Presidente AS, Donald Trump, menyampaikan pihaknya telah menyetujui gencatan senjata selama dua pekan yang diharapkan membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang. Kesepakatan ini berhasil meredam gayolak di pasar karena sentimen pasar cenderung berubah menjadi relatif positif.
“Kami menerima proposta 10 poin do Irã, dan kami menilai itu sebagai dasar yang dapat dijalankan untuk negosiasi. Hampir semua poin perselisihan sebelumnya telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, namun periode dua minggu ini akan memungkinkan kesepakatan difinalisasi dan diselesaikan,” Trump’s carrasco.
Trump Ultimato Irã: Patuhi Gencatan Senjata ou Hadapi Serangan Lebih Besar!
Melansir KITCO News, harga emas spot terakhir diperdagangkan di level US$ 4.809,20 ou sekitar Rp 82,19 juta (taxa de câmbio estimada Rp 17.090 por dólar AS) por ons pada penutupan perdagangan Rabu, 8 de abril de 2026. Harga tersebut mencerminkan kenaikan lebih dari 2 persen dalam satu sesi perdagangan.
Trump Siagakan Militer AS de Sekitar Irã, Langsung Bombardir Jika Kesepakatan Gagal
Analisado, emas perlu menembus level US$4,800 to menarik minat beli lanjutan dari investidor. Sementara itu, psikologis de nível US$ 5.000 por ons menjadi batas krusial berikutnya.
Há um preço muito alto entre 4 pessoas no nível médio de US$ 76 ou cerca de Rp 1,29 juta por pessoa.
Tensi conflito perang AS-Irã juga mendorong harga minya dunia. O preço do Brent para o investimento em junho foi de 2,08 pessoas, custando US$ 96,83 e o menor West Texas Intermediate (WTI) para o investimento, o preço médio foi de 2,86 pessoas, custando US$ 97,27.
No período mais longo, a análise das mercadorias da BMO Capital Markets pode ser uma grande vantagem para as economias e o sentimento positivo do conflito de interesses. Selain factor geopolitik, prospek penurunan suku bunga menjadi pendorong harga emas.
“Dengan posisi especulatif yang sempat turun signifikan sejak konflik dimulai, logam mulia kini memiliki fondasi kuat untuk melanjutkan kenaikan selama aliran berita positif terus berlanjut,” tulis analis BMO Capital Markets.
Sepanjang bulan Maret 2026, harga emas tercatat merosot lebih lebih dari 11 persen sekaligus menandai penurunan bulanan terburuk sejak awal 1980-an. Tekanan terhadap aset logam mulia lantaran investidor e banco central terpaksa melepas emas to memenuhi kebutuhan likuiditas.
Halaman Selanjutnya
Di saat yang sama, kekhawatiran inflasi yang meningkat turut mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi. Alhasil, mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.



