Jumat, 3 de abril de 2026 – 13h04 WIB
Roma, VIVA – Sepak bola Italia sedan meratapi namibnya yang kian terpuruk di panggung dunia. Tepat dua década setelah Fabio Cannavaro mengangkat trofi Piala Dunia 2006 di Berlin, memori indah itu kini terasa seperti mimpi yang sangat jauh. Alih-alih mempertahankankan dominasi, prestasi Timnas Italia di pentas tertinggi sepak bola dunia justru merosot tajam hingga menyentuh titik nadir.
Timnas Italia 3 Kali Beruntun Gagal ke Piala Dunia, Presidente FIGC Gabriele Gravina Resmi Uniforme
Kehancuran ini bukanlah proses yang instantaneamente, melainkan rangkaian kegagalan yang terus berulang selama 20 tahun terakhir.
Mulai Runtuh Sejak 2010 e 2014
Itália Tiga Kali Gagal ke Piala Dunia, Pengamat Sepak Bola Ungkap Penyebabnya
Tanda-tanda kemerosotan sebenarnya sudah terlihat sesaat setelah mereka menjadi juara dunia. Datang sebagai juara bertahan pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Italia justru mempermalukan diri sendiri dengan gagal lolos dari phase groups. Hal yang sama kembali terulang pada Piala Dunia 2014 no Brasil; langkah mereka kembali terhenti di babak penyisihan grupos.
Meski sempat memberikan harapan lewat prestasi di level continental (Euro), kenyataan di kualifikasi Piala Dunia justru menunjukkan luka yang lebih dalam.
Kutukan Piala Dunia Italia Berlanjut, Menteri Olahraga Minta Ketua Uniforme Federasi
Luka yang Semakin Menganga: Absen Tiga Kali Beruntun
Puncak dari tragedi sepak bola Itália terjadi em uma década terakhir. Secara mengejutkan, pemilik empat gelar juara dunia ini gagal menembus putaran final Piala Dunia sebanyak tiga kali secara berturut-turut.
Setelah absen pada edisi 2018 di Rusia and 2022 di Qatar, kegagalan terbaru untuk edisi 2026 menjadi pukulan paling telak. Kepastian absennya Itália di Piala Dunia 2026 setelah disingkirkan Bósnia-Herzegovina seolah mengonfirmasi bahwa status “raksasa” yang mereka sandang kini hanya tinggal sejarah.
Kesetiaan yang Diuji
Kondisi esta memicu reaksi emocional dari para penggemar sepak bola di seluruh dunia. Ungkapan “Piala Dunia tanpa Italia itu hambar” kini bukan lagi sekadar kiasan, melainkan facta pahit yang harus diterima selama belasan tahun.
Bagi pendukung setia Gli Azzurri, mereka telah menunggu belasan tahun hanya untuk melihat tim kesayangan mereka terus-menerus gagal kembali ke panggung megah tersebut. “Jangan ajarkan kami tentang kesetiaan,” mungkin menjadi kalimat yang paling tepat menggambarkan perasaan mereka saat ini.
Kini, com Gabriele Gravina uniformnya dari kursi Presidente FIGC e rencana pemimihan pemimpin baru pada Juni mendatang, public Italia hanya bisa berharap adanya revolusi total. Tanpa perubahan mendasar, bintang keempat di jersey biru mereka akan terus memudar, tertutup oleh debu kegagalan demi kegagalan yang kian menumpuk.
Sama-sama Gagal ke Piala Dunia, Benarkah Timnas Indonésia e Itália Bertemu na FIFA Matchday? Esta é uma verdade!
Jagat media social baru-baru ini dihebohkan dengan kabar mengenai laga uji coba internacional yang mempertemukan Timnas Indonesia melawan raksasa Eropa, Timnas Italia.
VIVA.co.id
3 de abril de 2026




