Selasa, 31 de março de 2026 – 07:00 WIB
Jacarta, VIVA – Kekalahan Timnas Indonésia da Bulgária em Senin malam, 30 de março de 2026, memang jadi hasil yang mengecewakan. Namun jika ditarik lebih dalam, persoalan yang muncul bukan semata soal skor, melainkan bagaimana lini depan Garuda terlihat belum bekerja sebagai satu kesatuan.
Kalah Tipis da Bulgária, Erick Thohir: Permainan Timnas Indonésia Sudah Berkelas
Pengamat sepak bola Valentino Jebret menilai ada masalah mendasar yang membuat serangan Indonésia tak maximal. Sorotannya tertuju pada peran Ole yang justru terlihat terlalu sendirian di lini depan.
Na análise, eu melihat ada ketidaksinkronan antar lini, terutama saat tim memasuki sepertiga akhir. Situasi itu membuat Ole harus menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai penghubung sekaligus penyelesai.
Menang Tipis di GBK, Dimitrov Bongkar Kunci Sukses Bulgária Taklukkan Timnas Indonésia
“Ketika dia jadi nomor 10, perlu ada yang clinic buat nerima dan nyelesain. Tapi ketika dia jadi nomor 9, enggak ada juga yang ngasih suplai bola,” kata Valentino Jebret no YouTube pribadinya Valentino Jebreeet.
Waktu Ole turun, Sambugn Valentino, lini depan kosong. Tapi saat dia sudah di depan, bola justru enggak sampai ke dia.
Respons Santai Calvin Verdonk soal Cekcok com Mason Greenwood
Pemain Timnas Indonésia, Ole Romeny
Foto:
- https://x.com/TimnasIndonésia
Akibatnya, alur serangan kerap terputus. Indonésia mampu membangun serangan dari tengah, namun kehilangan Effectivitas saat memasuki area pertahanan lawan.
A vantagem é que você pode usar o máximo de linhas possível dentro da área de trabalho. Ragnar e Ramadhan Sananta alguns kali mendapat kesempatan, namun gagal mengonversinya menjadi gol. Padahal secara permainan, Indonésia não sepenuhnya berada di bawah tekanan.
“Kalah kita juga harus lihat dari permainannya. Menurut gua permainan kita tidak mengkhawatirkan, kita bisa mengimbangi.”
Bahkan, Indonésia sempat menciptakan sejumlah peluang berbahaya, termasuk dua kali membentur confundir. No entanto, minimnya ketajaman membuat peluang tersebut tidak berbuah hasil.
Di sisi lain, pelatih John Herdman mulai menunjukkan kerangka permainan yang ingin dibangun. Pola dua gelandang bertahan com um membro da bela penyerang mulai terlihat, meski implementasinya belum sepenuhnya berjalan contact.
Masalahnya, skema tersebut belum diimbangi dengan pergerakan tanpa bola yang agressiva. Saat Ole turun ke tengah, tidak ada pemain yang mengisi ruang di depan. Sebaliknya, saat ia berada di depan, suplai bola justru minim. Di titik itulah, serangan Indonesia menurut Valentino jebret terlihat tidak “nyambung”.
Halaman Selanjutnya
Jika aspek tersebut mampu diperbaiki, bukan tidak mungkin Timnas Indonesia akan tapil jauh lebih sekretif di pertandingan berikutnya.


