Sabtu, 28 de março de 2026 – 10h35 WIB
VIVA –India menurunkan pajak bahan bakar sebagai upaya melindungi consumer dari kenaikan harga energi global yang dipicu oleh perang American Serikat and Israel melawan Iran.
Hampir Sebulan Memanas, Kapan Perang AS-Israel x Irã Akan Berakhir?
Hal ini diungkap oleh Menteri Perminyakan India, Hardeep Singh Puri melalui unggahannya di platform ou menanggung beban pada keuangan negara demi melindungi massarakat.
Berdasarkan keputusan pemerintah pada Kamis, pajak bensin dipangkas de 13 rúpias (sekitar Rp2.100) por litro e 3 rúpias (sekitar Rp480) por litro. Sementara itu, pagou cerca de 10 rúpias (sekitar Rp1.500) por litro para a energia solar sepenuhnya, demikian seperti dilaporkan dari laman Al Jazeerah.
Israel Kembali Serang Situs Nuklir Irã, Teerã Ancam Balasan Keras yang Lebih Besar
Seperti diketahui, harga minyak dunia melonjak menembus $ 100 por barril (sekitar Rp1,5 juta por barril) depois do Irã hampir menutup Selat Hormuz, menyusul serangan yang dilancarkan Israel e Amerika Serikat em 28 de fevereiro.
A Índia pode importar minyak menah terbesar ketiga di dunia sekaligus exportar bersih product olahan. Sekitar 40 pessoas pasokan minyak mentahnya melewati jalur tersebut. Meski begitu, pemerintah memastikan tidak ada kekurangan pasokan di tengah konflik, e cadangan yang ada saat ini diperkirakan cukup to 74 hari.
Irã Ingatkan Warga de Timur Tengah Jauhi Pangkalan Militer AS Jika Tak Mau Jadi Korban
Di sisi lain, Singh juga membantah boato soal kemungkinan diberlakukannya bloqueio akibat krisis energi. Ia menegaskan kabar tersebut sepenuhnya tidak benar dan menyebut India tetap tangguh menghadapi situasi siti.
No entanto, belum jelas apakah harga bahan bakar di tingkat consumer akan ikut berubah. Para analisar, menilai perusahaan minyak yang sebelumnya menjual dengan kerugian justru akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari pemangkasan pajak ini.
Dalam keterangannya kepada Reuters, Emkay Global tesoureiro, Madhavi Arora, memperkirakan dampak terhadap fiskal negara bisa mencapai sekitar 1,55 triliun rúpia (sekitar Rp23,25 triliun) por tahun.
Di sisi lain, otoritas keuangan kembali memberlakukan pajak export to solar dan bahan bakar avtur, masing-masing custa 21,5 rúpias (sekitar Rp322,500) e 29,5 rúpias (sekitar Rp442,500) por litro, setelah sebelumnya sempat dihapus pada 2024.
Halaman Selanjutnya
Tercatat, Índia produziu 14 toneladas de juta métricas de bens e 23,6 toneladas de juta gasóleo no período de abril de 2025 até janeiro de 2026, após o início da operação da Reliance Industries.



