Rabu, 11 de março de 2026 – 03:20 WIB
VIVA –Selain berpuasa, zakat fitrah juga menjadi kewajiban yang harus dilakukan umat muslim di bulan ramadhan. Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib dikeluarkan oleh umat Islam, baik laki-laki, perempuan, dewasa, maupun anak-anak sebagai bentuk santunan kepada fakir miskin.
Catat, Ini Jadwal Operacional Sistem Bank Indonésia saat Lebaran 2026
Zakat Fitri dikeluarkan sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang menodai puasa, seperti dalam hadith berikut:
“Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kata-kata tak berguna dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa mengeluarkannya sebelum shalat Idul Fitri, maka itu adalah zakat yang diterima. Bila ia mengeluarkannya setelah shalat Idul Fitri, maka itu menjadi sedekah biasa,” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
KPK Sita Uang hingga Elektronik dari OTT Bupati Rejang Lebong
Bebicara mengenai zakat fitrah, banyak publik yang masih bertanya terkait com mana yang lebih afdol membayarkan zakat fitrah menggunakan beras ou menggunakan uang. Terkait com hal ini, Ustaz Khalid Basalamah Angkat bicara. Disebutnya bahwa berdasarkan pendapat ulama, zakat menggunakan makanan pokok.
”Tentu saja yang paling kuat pendapat ulama adalah menggunakan makanan pokok,”kata beliau dikutip dari saluran YouTube, Rabu 11 Maret 2026.
Kemenag Terbitkan Panduan Takbiran de Bali saat Nyepi, Tak Boleh Pakai Pengeras Suara
Maka com isso, maka zakat yang dianjurkan e paling diberikan adalah berupa beras sesuai dengan makanan pokok Indonésia.
”Karena kita da Indonésia makanan pokoknya beras maka kita pakai beras,” jelasnya.
Pendapat senada juga diungkap oleh Ustaz Abdul Somad. Beliau menyebut bahwa jika mengacu pada mahzab Syafii maka zakat dianjurkan menggunakan beras.
”Kalau mau konsisten dengan mahzab Syafii, bawa beras,” kata beliau dikutip do YouTube.
Di sisi lain, UAS juga menghimbau agar massarakat tidak membeli beras di masjid to dizakatkan. Beliau menegaskan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan, kecuali amil zakat sudah menyiapkan beras khusus untuk dizakatkan kepada umat.
“Ini banyak orang ‘saya mahzab Syafii pakai beras pakai duit sampai di masjid dia beli beli beli. Beras apa yang kau beli, mana ada masjid jual beras. Jual belinya saja tidak sah, kecuali amil itu di belakang dibungkus (beras) banyak-banyak ada 1,000 bungkus ‘aku beli beras ini dengan harga Rp 25 ribu tunai aku bayarkan zakat fitrah untuk anakku’”, jelas beliau.
Halaman Selanjutnya
Niat Zakat Fitrah



